Korban bernama John Allen Chau dilaporkan tewas terkena anak panah suku Sentinelese usai menginjakkan kaki di pulau North Sentinel pada 17 November. Ia datang ke pulau itu dengan harapan dapat mengajak semua anggota suku untuk memeluk agama Kristen.
Nelayan yang membantu Chau mencapai North Sentinel mengaku melihat sejumlah anggota suku Sentinelese menyeret sesosok jasad manusia di pantai dan menguburkannya. Ia kemudian kembali ke area tersebut bersama polisi.
Sabtu 24 November, polisi menyiagakan kapal mereka dalam jarak sekitar 400 meter dari North Sentinel. Dengan menggunakan teropong, petugas melihat ada sekelompok Sentinelese yang bersiaga dengan busur dan panah.
Baca: Pria AS Tewas Dibunuh Suku Terancam Punah
"Mereka melihat ke arah kami, dan kami juga melihat ke arah mereka," ucap Kepala Kepolisian Dependra Pathak kepada kantor berita AFP, Minggu 25 November 2018. Menghindari konfrontasi, ia memerintahkan kapal untuk berputar balik.
"Kami telah memetakan area tersebut dengan bantuan para nelayan, tapi kami belum melihat adanya jasad (Chau). Tapi kami tahu gambaran dari area yang diyakini sebagai tempat dikuburkannya korban," sebut Pathak.
Banyak organisasi global, seperti Survival International, berusaha menyuarakan kampanye untuk menyelamatkan sejumlah suku terancam punah di Andaman. Sejumlah suku terisolasi diduga sudah tinggal di Andaman selama lebih dari 60 ribu tahun.
Suku terancam punah di Andaman -- Jarawa dan Sentinelese -- adalah tipe pemburu. Kontak dengan dunia luar disebut sejumlah pengamat dapat membuat suku tersebut terjangkit penyakit.
Sentinelese rentan terkena penyakit karena terisolasi sejak lama. Sentinelese kemungkinan tidak memiliki daya tahan tubuh memadai, bahkan untuk penyakit biasa seperti flu atau campak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News