Pemilu Malaysia Pertemukan Mantan PM dengan Anak Didiknya

Willy Haryono 08 Mei 2018 09:53 WIB
politik malaysia1mdb
Pemilu Malaysia Pertemukan Mantan PM dengan Anak Didiknya
PM Najib Razak (kiri) dan Mahathir Mohamad. (Foto: AFP)
Kuala Lumpur: Warga Malaysia dihadapkan pada pilihan sederhana dalam pemilihan umum kali ini: menghidupkan kembali gaya kepemimpinan otoriter mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, atau memberikan periode ketiga kepada pemimpin saat ini, Najib Razak. 

Koalisi Najib, yang menguasai Malaysia selama enam dekade, kemungkinan akan tetap berkuasa karena sistem elektoral saat ini lebih menitikberatkan kepada para pemilih di daerah pinggiran dan pegunungan. Namun sistem ini berimbas pada legitimasi hasil pemilu, yang akan digelar pada 9 Mei mendatang.

Pemilu kali ini menempatkan Najib, politikus berdarah biru, melawan mantan mentornya, Mahathir yang pernah menjadi PM selama 22 tahun hingga 2003. Mahathir pernah dianggap sebagai tokoh yang berhasil memodernisasi Malaysia. 


Kesal karena skandal korupsi 1MDB, perusahaan yang didirikan Najib, Mahathir keluar dari koalisi dan bergabung dengan kubu oposisi. Amerika Serikat mengatakan USD4,5 miliar telah dicuri dari 1MDB oleh beberapa kolega Najib antara 2009 dan 2014, termasuk USD700 juta yang masuk ke rekening sang PM. Najib membantah berbuat salah.

Skandal korupsi dan pencucian uang ini, sedang diinvestigasi oleh beberapa negara termasuk AS, menjadi pertimbangan banyak warga Malaysia dalam pemilu. Namun, masalah rasisme dalam politik Malaysia, bahwa jika oposisi menang maka etnis minoritas Tiongkok berpotensi mendominasi politik, juga masih menjadi isu kuat di tengah masyarakat. 

"Isu fundamental ini masih ada dalam politik Malaysia. Kampanye pemilu membicarakan mengenai ekonomi dan harga kebutuhan hidup, namun masih ada banyak diskusi mengenai siapa yang pantas memperjuangkan kepentingan mayoritas Muslim Malay," ujar Ibrahim Suffian, wakil pendiri Pusat Riset Opini Merdeka, seperti dikutip ABC News

Dalam pemilu 2008, koalisi National Front kehilangan mayoritas di parlemen. Hasil buruk juga didapat pada 2013. Namun koalisi masih mendapat 60 persen kursi parlemen karena sistem elektoral yang menjadikan suara warga pedesaan, yang selama ini cenderung mendukung koalisi, lebih kuat dari kaum urban. 

Sementara itu kampanye pemilu Malaysia diwarnai aksi saling tuduh dari kedua kubu. Mahathir menyerang Najib dengan 1MDB, sementara PM menyinggung mengenai gaya otoriter mantan pemimpin tersebut. 

Mahathir adalah kandidat perdana menteri dari Pakatan Harapan jika partai ini memenangkan mayoritas 222 kursi Parlemen pada 9 Mei nanti.

Ia setuju menyerahkan posisi perdana menteri ke Anwar Ibrahim, tokoh Malaysia yang dikabarkan akan bebas dari penjara pada 8 Juni.

Baca: Saling Tuduh Kecurangan Warnai Kampanye Pemilu Malaysia

 



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360