Pedemo Hong Kong yang masih bertahan di Bandara Internasional Hong Kong. Foto: AFP.
Pedemo Hong Kong yang masih bertahan di Bandara Internasional Hong Kong. Foto: AFP.

Tiongkok Anggap Aksi di Bandara Hong Kong seperti Teroris

Internasional hong kong
Fajar Nugraha • 14 Agustus 2019 13:45
Beijing: Pemerintah Tiongkok mengecam pengunjuk rasa pro-demokrasi di Bandara Internasional Hong Kong. Tiongkok menyebut tindakan pada pedemo ‘seperti teroris’, khususnya setelah dua pria dipukuli oleh demonstran.
 
Aktivis memblokade dua terminal di bandara kota itu pada Selasa dalam eskalasi terbaru. Krisis ini sendiri sudah berjalan selama 10 minggu yang mencengkeram pusat keuangan internasional dan memaksa penutupan bandara.
 
Baca juga: Bandara Hong Kong Batalkan 300 Penerbangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sekelompok kecil penungjuk rasa juga mengepung, mengikat dan memukuli seorang pria yang mengenakan rompi kuning wartawan. Pria itu diidentifikasi oleh redaksi Global Times yang dikontrol Tiongkok. Sedangkan seorang lelaki lain yang dikatakan Beijing adalah warga Shenzhen yang berkunjung ke Shenzhen.
 
"Kami menyatakan kecaman terkuat atas tindakan seperti teroris ini," kata Xu Luying, juru bicara Dewan Urusan Negara Hong Kong dan Makau, seperti dikutip AFP, Rabu, 14 Agustus 2019.
 
Pria yang diidentifikasi Xu sebagai penduduk Shenzhen ditahan sekitar dua jam sebelum akhirnya dibawa dengan ambulans.
 
“Tindakan para pedemo sangat merusak citra internasional Hong Kong, dan secara serius melukai perasaan sejumlah besar rekan senegaranya di Tiongkak,” tegas Xu.
 
“Kejahatan kekerasan yang sangat keji harus dihukum berat menurut hukum. Kami dengan tegas mendukung kepolisian dan peradilan Hong Kong untuk secara tegas menegakkan dan membawa para penjahat ke pengadilan sesegera mungkin,” imbuhnya.
 
Baca juga: Indonesia Keluarkan Imbauan Perjalanan ke Hong Kong.
 
Di Hong Kong, berminggu-minggu aksi unjuk rasa, demonstrasi dan pendudukan telah menyaksikan jutaan orang turun ke jalan dalam tantangan terbesar terhadap pemerintahan Tiongkok atas kota semi-otonom sejak penyerahannya pada 1997 dari Inggris.
 
Awalnya dipicu perlawanan terhadap rancangan undang-undang yang akan memungkinkan ekstradisi ke daratan Tiongkok. Protes dengan cepat berkembang menjadi kampanye yang lebih luas untuk kebebasan demokratis, dan untuk menghentikan meningkatnya pengaruh penguasa otoriter Tiongkok di kota dengan otonomi khusus itu.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif