Warga di Kabupaten Asmat mengantre untuk berobat (Foto: Antara).
Warga di Kabupaten Asmat mengantre untuk berobat (Foto: Antara).

RI Diminta Cabut Akar Masalah Kerawanan Pangan di Papua

Internasional ketahanan pangan campak indonesia-pbb
Sonya Michaella • 18 April 2018 16:40
Jakarta: Selama beberapa bulan terakhir, 72 anak dilaporkan meninggal di Kabupaten Asmat, Papua. 66 anak meninggal karena campak dan enam lainnya dari akibat langsung gizi buruk.
 
Kematian mereka disebabkan oleh beberapa faktor termasuk masalah kerawanan pangan yang kronis dan kurangnya akses kesehatan yang layak.
 
"Pemerintah Indonesia harus segera mencabut akar permasalahan kerawanan pangan di Papua, termasuk kebijakan mengurangi kemiskinan dan pengangguran sambil meningkatkan perlindungan sosial, pendidikan dan mata pencaharian umum," kata Pelapor Khusus Hak Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Hilal Elver dalam konferensi pers di Kantor Perwakilan PBB di Jakarta, Rabu 18 April 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, tuntutan sebagian masyarakat atas gizi buruk yang terjadi di Asmat adalah hal yang wajar, di samping pemerintah juga terus memperbaiki kinerja mereka untuk memberantas masalah gizi buruk.
 
"Pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin hak atas pangan bagi semua penduduknya tanpa memandang suku, agama, asal, jenis kelamin dan usia," tukasnya.
 
"Saya juga menyambut baik atas keinginan Indonesia untuk bekerja sama dengan sistem HAM PBB mengenai tantangan yang diakibatkan situasi di Papua," lanjutnya lagi.
 
Gizi buruk tak hanya bergantung pada konsumsi makanan tetapi juga tergantung pada layanan kesehatan yang baik, kesejahteraan sosial dan program penanggulangan kemiskinan serta air minum dan sanitasi yang bersih.
 
Elver juga memberikan tujuh rekomendasi untuk Indonesia terkait hak pangan yang nanti akan dipresentasikan di Dewan Komisaris HAM PBB pada 2019 mendatang.
 
Status gizi buruk di Asmat dicabut
 
Status kejadian luar biasa (KLB) Campak di Kabupaten Asmat, Papua, dicabut. Namun tenaga kesehatan tetap diminta melanjutkan proses pendampingan kepada warga.
 
(Baca: Status KLB Campak di Asmat Dicabut).
 
Bupati Asmat Elisa Kambu mencabut status tersebut pada Senin malam, 5 Februari 2018. Menurut Bupati, pencabutan status sesuai usul Dinas Kesehatan Asmat melalui Surat Nomor 800/50/Dinkes/2/2018.
 
Elisa berani memutuskan pencabutan KLB campak karena rekomendasi teknis kesehatan berdasarkan Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010. Bupati pun menemui langsung pasien rawat inap. Evaluasi dilakukan selama hampir 20 hari sejak penetapan KLB campak pertama kali pada 15 Januari 2018.
 
Melalui Kemenkes, imunisasi lengkap diberikan kepada anak-anak dari usia 0-15 tahun sebanyak 17.337 anak. Saat bersamaan, ditemukan pula penderita campak sebanyak 651 anak dan 223 pasien gizi buruk.
 
Komplikasi gizi buruk dan penderita campak turut ditemukan sebanyak 11 pasien, plus suspek campak sebanyak 25 pasien. Hingga status KLB berakhir, tercatat anak meninggal sebanyak 72 orang akibat dua masalah kesehatan tersebut.
 
Meski status KLB berakhir, pendampingan ke warga dan pelayanan kesehatan tetap berjalan.
 
Asmat jadi percontohan
 
Usai KLB gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, Papua dicabut penangan di wilayah ini dijadikan evaluasi dan percontohan.
 
Integrasi program di Asmat kini menjadi piloting dan harus direplikasi untuk kasus serupa pada daerah bermasalah dan berpotensi bermasalah.
 
(Baca: Penanganan Gizi Buruk Asmat Jadi Percontohan).
 
Selama ini, belum terintegrasinya program antarkementerian dan lembaga membuat penanganan berbagai masalah sosial dasar masyarakat, termasuk kesehatan berjalan tak optimal. Sementara itu, peran pemerintah daerah sebagai ujung tombak pemberdayaan masyarakat dianggap masih lemah.
 
Alhasil, masih banyak daerah-daerah kategori rawan bermasalah kesehatan. Kemenkes mendorong pemerintah daerah untuk segera menyadari hal tersebut sebagai masalah yang harus ditangani.
 
"Pemberdayaan di daerah itu harusnya dioptimalkan. Jangan melulu meminta kepedulian pusat," kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Achmad Yurianto melalui keterangan tertulis, Sabtu, 24 Maret 2018.
 
Saat ini Kemenkes tengah fokus untuk melakukan pemulihan setelah pencabutan Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat pada pertengahan Januari lalu. Tahap pemulihan ini ditargetkan selesai hingga akhir 2018.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif