Aktivitas pengungsi Rohingya di salah satu kamp di Bangladesh. (Foto: Munir Uz Zaman/AFP/Getty Images)
Aktivitas pengungsi Rohingya di salah satu kamp di Bangladesh. (Foto: Munir Uz Zaman/AFP/Getty Images)

Rohingya Tuntut Pengakuan Status Sebelum Repatriasi

Internasional rohingya bangladesh pengungsi rohingya
Arpan Rahman • 29 Juli 2019 17:02
Cox's Bazar: Delegasi pemerintah Myanmar dan perwakilan etnis minoritas Rohingya mendiskusikan rencana repatriasi di sebuah kamp pengungsian di Bangladesh. Rohingya menegaskan repatrisiasi baru terwujud setelah status kewarganegaraan mereka diakui secara resmi oleh pemerintah.
 
Myanmar dan Bangladesh telah menandantangani perjanjian repatriasi Rohingya sejak November 2017, namun implementasinya belum terwujud hingga saat ini.
 
Sekitar 740 ribu Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dari operasi pemerintah Myanmar pada 2017. Mereka hidup di sejumlah kamp, terutama yang berlokasi di distrik Cox's Bazar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dipimpin Menteri Luar Negeri U Myint Thu, delegasi Myanmar tiba di Cox's Bazar pada Sabtu 27 Juli. Di sana, delegasi Myanmar dan perwakilan Rohingya berdialog selama berjam-jam.
 
Salah satu pemimpin Rohingua, Dil Mohammad, mengatakan bahwa dialog "berjalan lancar" tanpa gangguan berarti. Kepada delegasi Myanmar, ia menekankan kembali bahwa Rohingya hanya ingin diakui sebagai salah satu etnis minoritas di Myanmar.
 
"Kami berharap diskusi ini akan membuahkan hasil. Kami mengatakan kepada mereka bahwa kami tidak akan pulang sampai kami diakui sebagai Rohingya di Myanmar," kata Mohammad, disiarkan dari Guardian, Minggu 28 Juli 2019.
 
Baca:Gambar Satelit Tunjukkan Persiapan Repatriasi Rohingya
 
Selama ini, Myanmar menolak memberikan status kewarganegaraan kepada Rohingya, dan menyebut mereka semua sebagai Bengali -- istilah bagi imigran gelap asal Bangladesh.
 
Ini merupakan percobaan kali kedua Myanmar dalam kurun waktu kurang dari dua tahun untuk membujuk Rohingya agar mau direpatriasi ke Rakhine. Namun sebagian besar Rohingya enggan kembali ke Rakhine, karena takut mengalami nasib buruk di tangan militer Myanmar.
 
Sementara itu, Bangladesh menuduh Myanmar sengaja menunda-nunda repatriasi. Dhaka menegaskan tidak akan memaksa Rohingya untuk pulang, namun meminta Myanmar untuk segera mempercepa proses repatriasi.
 
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluhkan perkembangan dari krisis pengungsi Rohingya ini berjalan relatif lamban.
 
Pertemuan delegasi Myanmar dan Rohingya terjadi saat Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing. PM Hasina mengatakan Beijing akan "melakukan apapun yang diperlukan" untuk memastikan krisis Rohingya dapat diselesaikan dengan baik.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif