Mengenal si Buldoser Doyan Membasmi Kejahatan Siber
Kim Jong-yang, Presiden Interpol yang baru terpilih. (Foto: Interpol).
Seoul: Terpilihnya Kim Jong-yang dari Korea Selatan (Korsel) sebagai presiden Interpol kemungkinan membuat organisasi kepolisian internasional kembali ke misi intinya. Mayoritas delegasi memilih polisi karir asal Negeri Ginseng itu ketimbang calon dari Kremlin, Alexander Prokopchuk.

Baca juga: Interpol Pilih Pejabat Korea Selatan sebagai Presiden.

Sementara perannya sebagian besar seremonial dan operasi sehari-hari ditangani oleh sekretaris jenderal, Kim akan ditugaskan untuk menyelamatkan reputasi organisasi setelah kepergian mendadak presiden sebelumnya, Meng Hongwei dari Tiongkok, yang ditahan atas tuduhan korupsi. 


Istri Meng, Grace Meng, menegaskan suaminya tidak bersalah. Ia mengatakan tuduhan itu didorong oleh dendam pada kementerian keamanan yang telah menyoroti sistem otoriter Tiongkok. Kim berdinas polisi pada 1992, naik menjadi kepala polisi di Provinsi Gyeonggi, yang paling banyak penduduknya di Korsel, sebelum pensiun pada 2015 untuk menjadi wakil presiden di Interpol.

"Dia memiliki reputasi untuk keuletan, dan banyak orang di Korea telah menyamakannya dengan buldoser: apa pun yang ingin dia lakukan, dia akan menyelesaikannya," kata Lee Chang-Hoon, profesor di departemen administrasi kepolisian di Universitas Hannam di Daejeon.

"Dia kemungkinan akan mendorong lebih banyak kerja sama antarlembaga dalam penyelidikan dan fokus terutama pada kejahatan siber transnasional," serunya, seperti disitat dari Guardian, Kamis 22 November 2018.

Terpilihnya Kim mewakili kemenangan profil tinggi untuk program pemerintah yang dikenal sebagai ‘gelombang K-polisi’. Para pejabat Korsel meniru popularitas global musik K-pop, kali ini dengan taktik kepolisian.

Program ini didirikan pada 2015 dan telah melatih petugas dari puluhan negara, dengan fokus pada negara-negara Asia timur dengan populasi Korea yang besar. Telah terlihat pendirian beberapa unit khusus di negara-negara seperti Filipina dan Vietnam, dan juga mendorong produk kepolisian Korea di pasar internasional.

Polisi Korsel memiliki masa lalu yang suram. Selama orde kediktatoran, mereka ditakuti sebagai alat bantu rezim dan menghancurkan protes pro-demokrasi di kota selatan Gwangju pada 1980 di mana ratusan orang meninggal. Dalam beberapa tahun terakhir polisi menghadapi kritik atas persepsi bahwa mereka tidak menganggap serius kejahatan terhadap perempuan.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id