Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dihadapkan pada penyelidikan polisi (Foto: AFP).
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dihadapkan pada penyelidikan polisi (Foto: AFP).

Mahathir Tantang Pemerintah untuk Periksa Dirinya terkait Hoaks

Internasional Pemilu Malaysia 2018
Sonya Michaella • 04 Mei 2018 16:55
Kuala Lumpur: Pemimpin oposisi Malaysia Mahathir Mohamad menantang pemerintah untuk memeriksanya terkait penyebaran berita palsu.
 
(Baca: Polisi Malaysia Periksa Mahathir Mohamad Atas Tuduhan Berita Palsu).
 
Sebelumnya, polisi Malaysia memberikan konfirmasi bahwa ada penyelidikan terhadap Mahathir soal berita palsu terkait pesawat yang ditumpanginya telah disabotase.
 
"Silahkan. Periksa saya menurut Undang-Undang Berita Palsu baru," kata Mahathir, dikutip dari AFP, Jumat 4 Mei 2018.
 
"Pada hari pemilu nanti, kami akan menjatuhan pemerintahan kleptokratis ini yang dipimpin oleh seorang Najib Razak," tegas dia.
 
Saat ini memang Malaysia telah mengesahkan UU baru terkait penyebaran berita palsu. Seorang warga negara Denmark bahkan dituntut karena kritik yang tak akurat terhadap polisi, pekan lalu.
 
Klaim Mahathir soal sabotase dikeluarkannya saat mencarter pesawat yang membawanya ke Langkawi dari Subang. Ketua Partai Pribumi Bersatu Malaysia ini naik ke pesawat, sebelum pilot mengumumkan bahwa salah satu roda pesawat mengalami kebocoran.
 
Karena insiden itu, Mahathir pun terpaksa melakukan perjalanan dengan pesawat lain. Tokoh berusia 93 tahun itu kemudian melontarkan klaim bahwa ada pesawatnya disabotase oleh pihak lain.
 
Setelah diselidiki oleh pihak Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM), tidak ada bukti sabotase ditemukan.
 
Pada Selasa 1 Mei 2018, Pergerakan Pemuda UMNO melayangkan laporan kepada polisi terhadap Mahathir. Mereka mengatakan tuduhan itu tidak jelas dan menimbulkan persepsi tidak tepat terhadap koalisi Barisan Nasional yang saat ini menguasai pemerintahan.
 
Sementara Kepala Polisi Mazlan mengatakan bahwa Mahathir diperiksa atas Undang-undang Anti Berita Palsu 2018, yang bisa diancam penjara maksimal enam tahun atau denda 500 ribu ringgit Malaysia.


(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi