Putri Ubolratana didiskualifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum Thailand. (Foto: AFP).
Putri Ubolratana didiskualifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum Thailand. (Foto: AFP).

Kesedihan Putri Thailand Usai Gagal Maju ke Pemilu

Internasional politik thailand thailand
Arpan Rahman • 13 Februari 2019 21:08
Bangkok: Saudara perempuan dari Raja Thailand mengatakan dia merasa ‘sedih’. Upayanya menjadi perdana menteri berikutnya di negara itu telah menciptakan "masalah yang seharusnya tidak terjadi di zaman sekarang ini".
 
Baca juga: Putri Thailand Tiba-tiba Calonkan Diri sebagai Perdana Menteri.
 
Putri Ubolratana didiskualifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum Thailand pada Senin. Pencalonannya yang tidak pernah terjadi sebelumnya dihambat tradisi keluarga kerajaan Thailand agar tidak terlibat dalam politik. Raja Vajiralongkorn menyebut pencalonannya "sangat tidak pantas".

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Memposting di akun Instagram pribadinya, sang putri menulis: "Saya sedih karena niat tulus bekerja bagi negara dan kita, orang Thailand, telah menciptakan masalah yang seharusnya tidak terjadi di zaman sekarang ini."
 
Foto yang dipostingnya -- dari taman yang indah -- juga diberi tagar #HowComeItsTheWayItIs.
 
Pekan lalu, panel pemilu Thailand mengatakan telah mengecualikan Puteri Ubolratana karena "setiap anggota keluarga kerajaan berlaku dalam penerapan aturan yang sama yang mengharuskan raja berada di atas politik dan netral secara politik".
 
Sikap itu menggemakan pernyataan istana, yang berkata: "keterlibatan anggota keluarga kerajaan dalam politik dianggap sangat tidak pantas".
 
Pengumuman bahwa Putri Ubolratana akan mencalonkan diri untuk pemilu mengejutkan blantika politik Thailand, Jumat lalu.
 
Dia dicalonkan oleh Thai Raksa Chart, sebuah partai yang bersekutu dengan mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra. Komisi pemilu Thailand kini mempertimbangkan apakah partai itu harus dibubarkan.
 
Pemimpin partai Preechaphol Pongpanit beralasan mereka melakukan segalanya "dengan tulus, dengan niat baik".
 
"Di atas kami adalah Yang Mulia dan monarki. Kami siap untuk diselidiki," cetusnya, seperti disitir dari laman BBC, Rabu 13 Februari 2019.
 
Pemilu Maret mendatang menjadi pemungutan suara pertama sejak Perdana Menteri saat ini Prayuth Chan-ocha mengambil alih kekuasaan dalam kudeta militer 2014, menggulingkan pemerintah demokratis.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif