Jawaharlal Nehru University di New Delhi, India. (Foto: jnu.ac.in)
Jawaharlal Nehru University di New Delhi, India. (Foto: jnu.ac.in)

Bermodal Nekat, Ardianti Kuliah di Universitas Ternama India

Internasional indonesia-india
Willy Haryono • 15 Agustus 2019 10:36
New Delhi: Ardianti Dewi Indriastuti bermimpi ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah lulus sekolah menengah atas di tahun 2014, ia berusaha keras masuk UGM melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
 
Usaha tersebut berakhir gagal. Jalur mandiri UGM atau universitas swasta juga bukan pilihan karena alasan ekonomi. Ardianti, atau akrab disapa Ar, akhirnya menganggur sekitar tiga tahun.
 
Selama rentang waktu tersebut, Ar mempelajari banyak hal, terutama bahasa asing. Ia juga sempat bekerja sebagai akuntan selama lebih kurang satu tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Suatu hari, salah satu teman Ar menceritakan pengalamannya berkuliah di Jawaharlal Nehru University (JNU) di New Delhi, India. Ia kemudian menginformasikan bahwa JNU sedang membuka pendaftaran untuk mahasiswa asing, dan Ar dinilai mampu lulus ujian saringan masuk.
 
"Saat itu saya tidak punya paspor, uang dan lain-lain. Saya juga hanya punya waktu satu bulan. Tapi saya akhirnya nekat," ujar Ar kepada Medcom.id saat ditemui di wilayah kampus JNU di New Delhi, Selasa 13 Agustus 2019.
 
Setelah membuat paspor dan meminjam uang dari sejumlah orang, Ar pergi ke India. Ia sempat merasa bimbang sebelum pergi, karena saat itu keluarganya sedang dilanda banyak masalah, terutama mengenai finansial.
 
Bermodal Nekat, Ardianti Kuliah di Universitas Ternama India
Ardianti Dewi Indriastuti di JNU India. (Foto: Medcom.id/Willy Haryono)
 
Ar tiba di India pada Mei 2017 saat musim panas. "Ujian masuk di sini 80 persen soal pengetahuan umum, seperti isu politik dunia dan lain-lain. Sangat berbeda dengan ujian di Indonesia," kata Ar.
 
Saat mengerjakan ujian, Ar mengaku bisa menjawab sejumlah pertanyaan berkat belajar banyak bahasa dan budaya asing selama tiga tahun menganggur. Ia merasa waktu yang dihabiskan tiga tahun saat itu tidak sia-sia, namun justru sangat berguna.
 
Jurusan Apa?
 
Ujian saringan masuk JNU berakhir. Ar pulang ke Indonesia. menanti pengumuman hasil tes. Perempuan asal Yogyakarta itu mengaku tidak bisa hasil tes karena situs JNU sulit diakses.
 
"Teman saya yang kuliah di sini memberi tahu bahwa saya lolos. Tapi saya harus ke India lagi untuk registrasi, dan waktu yang diberikan hanya dua pekan," sebut Ar.
 
Karena belum resmi mendaftar di JNU, Ar tidak bisa mendapatkan visa pelajar dari Kedutaan Besar India di Jakarta. "Saya sempat cekcok dengan pihak kedutaan, tapi pada akhirnya mendapat visa yang enam bulan," ungkapnya. "Saya nekat bahwa 200 dolar dan pergi lagi ke India."
 
Selama perjalanan, Ar merasa kebingungan saat mengingat kembali bahwa ia diterima di JNU, namun tidak ada keterangan apapun mengenai jurusan. Saat mendaftar, Ar hanya tahu bahwa ujian tertulis yang akan dijalaninya itu adalah untuk masuk ke School of International Studies, bagian dari JNU.
 
Setelah tiba kembali ke India dan melakukan daftar ulang, Ar mengetahui bahwa jurusan yang 'dipilihkan' JNU untuk dirinya adalah Sastra Jerman. "Sebenarnya saya lebih tertarik Sastra Spanyol, tapi ya tidak apa-apa. Jika dipikir-pikir lucu juga, belajar bahasa Jerman tapi di India," ucap Ar sembari tertawa.
 
Menurut data KBRI New Delhi, total jumlah mahasiswa Indonesia di India berkisar 170-180 orang. Mereka semua tersebar di beberapa negara bagian, dengan konsentrasi terbesar berada di kota Aligarh, provinsi Uttar Pradesh.
 
Baca:Perjuangan Mahasiswa Indonesia Hadapi Musim Panas di India
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif