Menlu Retno Marsudi menerima Menlu Guatemala Sandra Erica Jovel Polanco di Gedung Pancasila, Selasa 10 Desember 2019. Foto: Medcom.id/Fajar Nugraha
Menlu Retno Marsudi menerima Menlu Guatemala Sandra Erica Jovel Polanco di Gedung Pancasila, Selasa 10 Desember 2019. Foto: Medcom.id/Fajar Nugraha

Indonesia-Guatemala Bersatu Hadapi Diskriminasi Sawit

Internasional Indonesia-Guatemala
Fajar Nugraha • 10 Desember 2019 14:26
Jakarta: Sebagai negara yang sama-sama memproduksi sawit, kerja sama antara Indonesia dan Guatemala menjadi sangat penting. Pembukaan Kedutaan Besar Guatemala di Jakarta tentunya menjadi saat krusial.
 
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi dan Menlu Guatemala Sandra Erica Jovel Polanco, sepakat untuk memperkuat kerja sama antara kedua negara. Termasuk menandatangani MoU atau nota kesepahaman mengenai konsultasi bilateral. MoU ini menurut Menlu Retno akan sangat memfasilitasi komunikasi yang lebih terstruktur antara kedua negara.
 
“Dalam pertemuan, saya mendorong penyelesaian persetujuan bebas visa bagi pemegang passpor diplomatik dan dinas. Saya sudah mulai menyampaikan penjajakan bebas visa bagi seluruh pemegang paspor Indonesia,” ujar Menlu Retno, di Gedung Pancasila, Selasa, 10 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya mengenai visa, kerja sama ekonomi termasuk perdagangan dan investasi akan terus diperkuat. Selama ini, Guatemala dikenal sebagai mitra terbesar kedua Indonesia di Amerika Tengah.
 
“Namun kita tahu nilai perdagangan (antara kedua negara) masih cukup kecil dan perlu ditingkatkan,” tutur Menlu Retno.
 
Perdagangan bilateral antara kedua pada 2018 tercatat mencapai USD50,29 juta. Perdagangan ini akan ditingkatkan melalui berbagai mekanisme antara lainLatin America and the Caribbean(INA-LAC)Business ForumdanTrade Expo.
 
Menlu pun turut mengungang para pebisnis Guatemala untuk hadir di Trade Expo tahun depan. Kehadiran para pebisnis Guatemala tentunya akan membuat peluang pasar baru bagi kedua negara.
 
“Secara khusus kami juga membahas isu kelapa sawit. Kami sepakat kerja sama melawan diskriminiasi terhadap kelapa sawit. Saya mengundang Guatamela untuk bergabung menjadi anggota Council of Palm Oil Producing Countries(CPOPC),” kata Menlu Retno.
 
Tidak hanya sisi ekonomi. Kerja sama antara kedua negara pun akan ditingkatkan melalui pengembangan peranan perempuan khususnya sebagai agen perdamaian dan pembangunan. Peran perempuan dalam perdamaian dan keamanan sama-sama menjadi perhatian besar dalam kebijakan luar negeri kedua negara.
 
Menlu Jovel sendiri menambahkan bahwa kerja sama memberikan pengusaha pintu untuk mejalankan hubungan bisnis dengan Indonesia. Kami sepakat untuk menjalankan kerja sama ini,” tegas Menlu Jovel.
 
“Presiden kami menyampaikan salam dan terima kasih, untuk bisa menjalankan kedutaan kami di Indonesia,” tegasnya.
 
Sebelumnya Guatemala pernah membuka kedutaannya di Jakarta pada 1992. Namun operasi kedutaan ditutup pada 1993, atau satu tahun setelah beroperasi karena masalah ekonomi.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif