Bendera Selandia Baru dipasang setengah tiang untuk korban penembakan di Christchurch. (Foto: AFP).
Bendera Selandia Baru dipasang setengah tiang untuk korban penembakan di Christchurch. (Foto: AFP).

Warga Selandia Baru Berbondong-bondong Serahkan Senjata Api

Internasional Penembakan Selandia Baru
Marcheilla Ariesta • 19 Maret 2019 14:53
Christchurch: Warga Selandia Baru berbondong-bondong menyerahkan senjata mereka. Penyerahan ini dilakukan usai insiden penembakan di dua masjid di kota Christchurch.
 
John Hart, seorang petani di distrik North Island, Masterton memutuskan untuk memberikan senapan semi-otomatisnya kepada polisi. Dia juga mendorong pemilik senjata api lainnya untuk menyerahkan ke polisi.
 
Hart mengatakan keputusan menyerahkan senjatanya adalah hal yang mudah untuk dia. "Di sini, alat tersebut berguna untuk beberapa keadaan. Tetapi saya menyerahkan senjata ini untuk kenyamanan dan mengurangi risiko penyalahgunaan. Kami tidak membutuhkan ini di negara kita," katanya, dilansir dari laman Channel News Asia, Selasa 19 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengumumkan akan memperketat undang-undang senjata. Sementara itu, polisi mengaku tidak memiliki data mengenai jumlah senjata yang tersebar di tangan sipil.
 
Baca:Kabinet Selandia Baru Sepakat Perketat Aturan Senjata Api
 
PM Ardern menyebut detail dari langkah memperketat aturan ini adalah diumumkan dalam rapat kabinet pada Senin pekan mendatang. "Sekarang adalah saatnya untuk bertindak," tegas PM Ardern di Wellington.
 
Usai rapat kabinet, PM Ardern juga mengumumkan hasil sebuah penyelidikan mengenai penembakan di dua masjid di Christchurch meski detailnya tidak disebutkan. Sejak terjadinya penembakan, pemerintah Selandia Baru mendapat gelombang kritik mengenai pelaku teror -- Brenton Tarrant -- yang tidak ada dalam daftar terorisme maupun ekstremisme.
 
Menurut PM Ardern, jajaran kabinet Selandia Baru memiliki satu pandangan mengenai kasus penembakan ini. Kesepakatan "secara prinsip" mengenai aturan senjata api disebut PM Ardern tercapai setelah diskusi di internal kabinet selama 72 tahun.
 
Sementara itu, pelaku penembakan Christchurch yang menewaskan 50 orang, Brenton Tarrant akan menghadapi tuntutan yang belum pernah diberlakukan di Selandia Baru. Dia lah orang pertama yang akan menerima hukuman ini.
 
Hukuman terpanjang atas kasus pembunuhan yang pernah terjadi di Selandia Baru pada 2001 kepada William Bell yang melakukan tiga pembunuhan sekaligus. Dia dipenjara selama 30 tahun.
 
Di samping itu, Selandia Baru sendiri telah menghapus aturan hukuman mati sejak 1961. Sebagai gantinya, Tarrant diprediksi akan diganjar hukuman seumur hidup.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif