Brenton Tarrant, pelaku penembakan di Masjid di Christchurch, Selandia Baru. (Foto: AFP).
Brenton Tarrant, pelaku penembakan di Masjid di Christchurch, Selandia Baru. (Foto: AFP).

Pelaku Penembakan Christchurch Diperintahkan Cek Kesehatan Mental

Internasional Penembakan Selandia Baru
Marcheilla Ariesta • 05 April 2019 09:34
Christchurch: Hakim pengadilan tinggi Selandia Baru, Cameron Mander, memerintahkan pelaku penembakan di dua masjid untuk menjalani tes kesehatan mental. Mander memerintahkan Brenton Tarrant menjalani dua penilaian kesehatan mental.
 
Baca juga: Pelaku Teror Selandia Baru Didakwa 50 Pembunuhan.
 
Perintah tersebut dibuat selama sidang Brenton Tarrant. Pria 28 tahun asal Australia itu hadir dalam persidangan lewat video.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilansir dari Fox News, Jumat 5 April 2019, Tarrant menggunakan borgol dan sweater abu-abu dalam persidangan kali ini. Sidangnya dipenuhi para keluarga dan korban penembakan tersebut.
 
Selama persidangan, dia tidak menunjukkan emosi apapun. Dia hanya melihat sekeliling ruangan, atau memiringkan kepalanya.
 
Teroris itu hanya berbicara sekali untuk mengonfirmasi kepada hakim bahwa dia duduk. Meski demikian, suaranya tidak terdengar karena diredam.
 
Pengacara mengatakan perlu waktu dua atau tiga bulan untuk menyelesaikan cek mental tersebut. Hakim Mander mengatakan penilaian kesehatan mental merupakan langkah normal dalam kasus pembunuhan ini.
 
Ruang sidang dipenuhi banyak wartawan dan sekitar 60 anggota masyarakat. Beberapa dari mereka yang menonton persidangan terlihat emosional dan menangis.
 
Otoritas hukum Selandia Baru awalnya mengajukan satu tuduhan pembunuhan untuk Tarrant. Namun, pekan ini dakwaannya ditambah menjadi 50 tuduhan pembunuhan dan 39 tuduhan percobaan pembunuhan.
 
Dalam serangan 15 Maret, sebanyak 42 orang tewas di Masjid Al Noor, tujuh orang tewas di masjid Linwood dan satu orang lagi meninggal kemudian.
 
Di luar ruang sidang, Yama Nabi, yang ayahnya tewas dalam serangan itu, mengatakan dia merasa tidak berdaya menyaksikan persidangan.
 
"Kita hanya perlu duduk di pengadilan dan mendengarkan. Apa yang perlu kita lakukan? Kita tidak bisa berbuat apa-apa," kata Nabi.
 
Sementara itu, Tofazzal Alam, 25, mengatakan dirinya tengah beribadah ketika serangan terjadi. Dia merasa penting untuk menghadiri penyembuhan karena begitu banyak temannya yang terbunuh.
 
Alam berkata bahwa dia merasa sedih melihat Tarrant. "Dia terlihat baik-baik saja, perasaan saya berkata. Aku merasa menyesal. Menyesal untuk diriku sendiri. Menyesal untuk teman-temanku yang telah terbunuh," ungkapnya.
 
"Sepertinya dia (Tarrant) tidak peduli dengan apa yang telah dilakukan. Dia tidak punya emosi," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif