Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern memimpin perang terhadap ekstremisme online bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: AFP).
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern memimpin perang terhadap ekstremisme online bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: AFP).

PM Selandia Baru Sindir Penggunaan Senjata Api di AS

Internasional Penembakan Selandia Baru
Marcheilla Ariesta • 16 Mei 2019 08:02
Paris: Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyindir Amerika Serikat (AS) terkait penggunaan senjata api. Menurut dia, Washington tak pernah menemukan jalan keluar untuk mengendalikan penggunaan senjata api.
 
Ardern membandingkan dengan negaranya yang telah bersikap keras atas penggunaan senjata api usai tragedi berdarah di dua masjid di Christchurch yang menewaskan 51 orang.
 
"Australia pernah mengalami pembantaian dan akhirnya mengubah undang-undang mereka. Selandia Baru juga mengalami hal yang sama dan mengubah hukumnya. Sejujurnya, saya tak bisa memahami AS," tutur Ardern, dikutip dari laman CNN, Kamis, 16 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aksi penembakan di AS kerap terjadi, bahkan dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Ini merupakan bias undang-undang yang memperbolehkan warga menyimpan senjata api untuk perlindungan. Padahal, dalam kenyataannya lebih banyak dipakai dalam aksi kejahatan dan teror.
 
(Baca juga:Rencana PM Selandia Baru dan Presiden Prancis Perangi Ekstremisme)
 
Isu pengendalian senjata selalu bergulir dan menjadi perdebatan jelang dan usai pemilihan presiden. Kelompok yang mendukung untuk mempertahankan kepemilikan senjata api adalah Partai Republik dan Asosiasi Senjata Nasional (NRA).
 
Sejak penembakan pada pertengahan Maret 2019 lalu, Ardern memutuskan melarang kepemilikan senjata semi-otomatis standar militer, senapan serbu, serta terbitnya majalah dengan konten yang berbau senjata api.
 
Menurut dia, senjata memang diperlukan di Negeri Kiwi, namun senjata semi-otomatis untuk militer dan senapan serbu tak boleh jatuh ke tangan sipil. Dia juga mendesak sejumlah perusahaan teknologi dan media sosial dunia untuk menghapus rekaman insiden penembakan di Selandia Baru.
 
Dalam konferensi di Paris pada 15 Mei, Ardern bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron mengajak para pemimpin dunia serta pejabat perusahaan teknologi untuk menandatangani perjanjian yang disebut "Panggilan Christchurch." Hal ini bertujuan untuk mengakhiri penggunaan media sosial sebagai sarana aksi terorisme.
 

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif