NEWSTICKER
Pasukan keamanan India menyisir wilayah kerusuhan di New Delhi. Foto: AFP
Pasukan keamanan India menyisir wilayah kerusuhan di New Delhi. Foto: AFP

Pejabat India Didesak Berlakukan Jam Malam Usai Kerusuhan

Internasional india kerusuhan
Fajar Nugraha • 26 Februari 2020 16:04
New Delhi: Polisi antihuru-hara berpatroli di jalan-jalan Ibu Kota India, New Delhi pada Rabu 26 Februari 2020, terkait protes yang berujung kerusuhan dan menewaskan 20 orang. Pemerintah setempat pun didesak menerapkan jam malam.
 
Protes ini memicu terjadinya bentrok dua kelompok agama dan terjadi di saat kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
 
Baca: Korban Bentrokan UU Kewarganegaraan India Jadi 17 Orang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kerusuhan yang sudah berlansung selama dua hari ini, melibatkan massa yang bersenjatakan pedang dan senjata. Insiden itu dianggap sebagai kekerasan sektarian terburuk yang terjadi di New Delhi dalam beberapa dekade.
 
Bentrokan itu terjadi di tengah memburuknya ketegangan agama menyusul undang-undang kewarganegaraan yang baru ditetapkan. Undang-undang ini menurut para kritikus adalah bagian dari agenda kelompok nasional Hindu yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.
 
Menteri utama Delhi, Arvind Kejriwal, Rabu menyerukan agar tentara dikerahkan dan jam malam diberlakukan di distrik-distrik timur laut yang disembunyikan.
 
"Polisi, terlepas dari segala upayanya, tidak dapat mengendalikan situasi dan menanamkan kepercayaan," ujar Kejriwal dalam Twitter, seperti dikutip AFP, Rabu, 26 Februari 2020.
 
"Tentara (harus) dipanggil dan jam malam perlu segera diberlakukan,” imbuhnya.
 
Bentrokan dimulai pada Senin antara orang-orang yang mendukung dan menentang hukum kewarganegaraan, kemudian turun ke pertempuran sengit antara massa. Dua puluh orang tewas dan hampir 200 lainnya luka-luka dalam dua hari pertama kekerasan.
 
“Enam puluh orang menderita luka tembak,” menurut Direktur Rumah Sakit New Delhi, Sunil Kumar.
 
Daerah itu adalah rumah bagi kebanyakan migran ekonomi miskin yang tinggal di banyak lingkungan kumuh, dan beberapa melarikan diri pada hari Rabu menjelang bentrokan yang lebih diharapkan.
 
"Orang-orang saling membunuh (satu sama lain). Peluru ditembakkan di sini," kata seorang penjahit di wilayah Jaffrabad kepada AFP, seraya menambahkan bahwa ia kembali ke rumahnya di desanya di negara bagian Uttar Pradesh utara.
 
"Tidak ada pekerjaan. Lebih baik pergi daripada tetap di sini. Mengapa kita ingin mati di sini?”, tuturnya.
 
Pada Rabu pagi, AFP melihat orang-orang membersihkan bagian dalam masjid yang dirusak dan dihancurkan di wilayah Ashok Nagar terbakar selama kekerasan.
 
Sebuah video yang beredar di media sosial dan diverifikasi oleh AFP menunjukkan orang-orang membongkar pengeras suara muazin di atas menara masjid dan menempatkan bendera agama Hindu dan bendera India.
 
Undang-undang kewarganegaraan yang baru telah menimbulkan kekhawatiran di luar negeri bahwa Modi ingin membentuk kembali India sekuler menjadi negara Hindu sementara meminggirkan 200 juta Muslim di negara itu, klaim yang dibantahnya.
 
Undang-undang mempercepat aplikasi kewarganegaraan bagi minoritas teraniaya dari tiga negara tetangga mayoritas Muslim di India, tetapi tidak jika mereka adalah Muslim.
 
Gejolak dalam kekerasan terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengunjungi India dan mengadakan pembicaraan dengan Modi di Delhi pada hari Selasa. Tapi Trump pergi sesuai jadwal pada Selasa dan kunjungannya tidak tampak terganggu oleh kekerasan.

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif