Polisi menjaga dengan ketat Masjid Al Noor, di Christchurch, Selandia Baru usai serangan teror. (Foto: AFP).
Polisi menjaga dengan ketat Masjid Al Noor, di Christchurch, Selandia Baru usai serangan teror. (Foto: AFP).

Kehadiran Imigran Sangat Penting untuk Selandia Baru

Internasional Penembakan Selandia Baru
Arpan Rahman • 18 Maret 2019 14:23
Auckland: Teroris brutal, Brenton Tarrant, dituduh membunuh 50 orang dalam serangan terhadap dua masjid di Selandia Baru. Ia diyakini telah melakukan perjalanan ke Inggris selama tur dua bulan di Eropa yang boleh jadi memicu ekstremisme dalam dirinya.
 
Baca juga: Teroris Brenton Tarrant Muncul di Pengadilan Selandia Baru.
 
Pria 28 tahun itu diduga mengikuti paham supremasi kulit putih Australia. Ia melakukan tur Eropa dan datang ke Inggris untuk tinggal selama dua pekan pada 2017, menurut Sunday Telegraph.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sumber senior pemerintah Inggris telah mengkonfirmasi Tarrant ‘transit’ melalui Inggris dan menetap ‘selama beberapa pekan’. Sumber itu juga berkata, Tarrant tidak ada dalam ‘daftar pengawasan’. Layanan keamanan di seluruh dunia sedang berupaya menautkan aksi Tarrant dengan sejarah pertempuran yang terhubung dengan perang antara umat Kristen dan Muslim.
 
Dalam manifestonya yang tersebar, Tarrant menjelaskan bagaimana ia "memutuskan untuk melakukan serangan kekerasan" ketika pandangannya "berubah secara dramatis" selama April-Mei 2017 di Eropa Barat.
 
Medcom.idpada 18 Maret 2019menghubungi Profesor Paul Spoonley, Wakil Rektor dan pengajar di Fakultas Ilmu Humaniora dan Ilmu Sosial (Te Kura Pukenga Tangata) Massey University Auckland. Spoonley menanggapi mengenai petaka berdarah yang mematikan dan memukul rasa kemanusiaan antarumat beragama ini.
 
Baca juga: Salahkan Muslim Terkait Penembakan, Senator Australia 'Diserang' Telur.
 
Berikut, komentar Prof. Spoonley seperti disampaikan melalui aplikasi pesan elektronik, Senin 18 Maret 2019:
 
Apakah sebagian kecil warga Selandia Baru tidak mendukung keberagaman dan melihat imigrasi, dalam hal ini dari Asia, kurang memberikan beragam manfaat bagi negara Anda?
 
Jumlah yang melihat manfaat dari imigrasi relatif tinggi dibandingkan dengan banyak negara lain, tetapi ada kelompok (10-12 persen) yang khawatir tentang imigrasi, dan yang merasa bahwa imigran, dari Asia, dan di tempat lain ‘merusak’ budaya dan identitas kelompok kulit putih tertentu yang dominan.
 
Apakah politik nasionalis ekstrem dan supremasi kulit putih yang telah menjadi bagian dari komunitas Anda sejak lama cenderung tumbuh lebih besar dengan pembunuhan ini?
 
Saya telah mempelajari kelompok-kelompok ini di Selandia Baru sejak 1980-an meskipun ada kelompok yang terbentuk pada akhir 1960-an.
 
Itu bertepatan dengan beberapa perubahan besar dalam masyarakat barat seperti Selandia Baru, dan kecemasan kulit putih yang tumbuh. Itu berubah setelah (tragedi) 9/11 dan Islamafobia yang lebih eksplisit muncul, tampak di Selandia Baru dan di mana saja.
 
Apakah komentar yang penuh kebencian dan anti-Muslim semakin tersebar luas di Selandia Baru menambah kekuatan Islamofobia?
 
Mereka tidak tersebar luas tetapi hadir saat ini. Dan jelas bahwa Islamafobia lokal sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Kanada atau Inggris. Kosakata, argumen, dan ideologi digunakan secara luas di internet.
 
Apakah Anda berpikir bahwa negara-negara seperti Australia dan Selandia Baru adalah tempat kehidupan yang tidak cocok untuk imigran dan orang Asia terutama merujuk pada peristiwa pembunuhan ini?
 
Justru sebaliknya. Imigran Asia, terutama dari Tiongkok dan India, sangat penting bagi Australia dan Selandia Baru. Di Auckland, kota terbesar di Selandia Baru, seperempat dari semua penduduknya berasal dari komunitas Asia.
 
Tetapi kita perlu memastikan bahwa mereka diterima dan merupakan bagian dari komunitas yang lebih luas. Selandia Baru masih merupakan salah satu masyarakat yang lebih sukses (sebagai hasil pemukiman, kohesi sosial) tetapi masih membutuhkan kepemimpinan dan komitmen untuk saling menghormati.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif