Kusanagi no Tsurugi, satu dari tiga Harta Karun Kekaisaran Jepang. (Foto: BBC/DAVIESSURYA)
Kusanagi no Tsurugi, satu dari tiga Harta Karun Kekaisaran Jepang. (Foto: BBC/DAVIESSURYA)

Harta Karun Misterius Kekaisaran Jepang

Internasional kaisar jepang
Arpan Rahman • 28 April 2019 18:04
Tokyo: Pada 1 Mei 2019, Putra Mahkota Naruhito akan menjadi kaisar baru Jepang setelah ayahnya, Akihito, turun takhta.
 
Prosesi turun takhta Akihito dan penobatan Naruhito sebagai kaisar baru akan melibatkan upacara Shinto yang berpusat pada tiga benda -- cermin, pedang, dan permata -- yang dikenal sebagai Harta Karun Kekaisaran atau Regalia.
 
Asal-usul dan keberadaan benda-benda misterius ini diselimuti rahasia. Tetapi mitos tentang itu semua dibumbui sepanjang sejarah Jepang dan budaya pop.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengapa Harta Karun Kekaisaran Jepang begitu penting?
 
Agama nasional Jepang yang tidak resmi, Shinto, sangat mementingkan ritual guna menjaga hubungan dengan masa lalu dan dengan roh-roh yang mengintervensi kehidupan manusia.
 
Harta Karun Kekaisaran adalah bagian dari itu semua, yang dikatakan telah diturunkan dari para dewa melalui generasi kaisar yang dipandang sebagai keturunan langsung mereka. Karena kekaisaran Jepang tidak mengenal mahkota, harta karun misterius tersebut bertindak sebagai simbol kekuatan sang kaisar.
 
Tetapi harta karun itu dianggap sangat sakral, sehingga harus disembunyikan dari dunia.
 
"Kami tidak tahu kapan itu dibuat. Kami belum pernah melihatnya," Profesor Hideya Kawanishi dari Universitas Nagoya mengatakan kepada BBC.
 
"Bahkan Kaisar belum pernah melihat harta," cetusnya, dinukil dari laman BBC, Sabtu 27 April 2019.
 
Faktanya, ketiga harta karun itu bahkan tidak akan dipakai dalam prosesi turun takhta dan penobatan kaisar. Dua prosesi itu akan menggunakan replika tiga harta karun, yang juga sama-sama tidak akan diperlihatkan. Tiga harta karun orisinal itu diyakini tersimpan di beberapa kuil di Jepang/
 
Yata no Kagami -- cermin suci
 
Harta Karun Misterius Kekaisaran Jepang
Yata no Yagami. (Foto:BBC/DAVIESSURYA)
 
Cermin Yata no Kagami, yang mungkin berusia lebih dari 1.000 tahun, diyakini disimpan di Kuil Grand Ise di Prefektur Mie. Menurut Shinsuke Takenaka dari Institute of Moralogy -- badan Jepang yang meneliti etika dan moralitas -- cermin itu dianggap sebagai harta paling berharga.
 
Itu satu-satunya harta yang tidak ditampilkan dalam penobatan terakhir pada 1989.
 
Dalam cerita rakyat Jepang, cermin Yata no Kagami dikatakan memiliki kekuatan ilahi dan dapta dipakai untuk mengungkapkan kebenaran. Dalam upacara-upacara kekaisaran, Yata no Kagami -- atau cermin delapan sisi -- mewakili kebijaksanaan kaisar.
 
Menurut Kojiki, atau catatan tertulis legenda kuno Jepang, Yata no Kagami dibuat oleh dewa Ishikoridome.
 
Setelah dewi matahari Amaterasu berkelahi dengan kakaknya Susanoo, dewa laut dan badai, dia mundur ke sebuah gua yang membawa terang dunia bersamanya.
 
Susanoo mengatur pesta untuk memancingnya keluar, dan Amaterasu terpesona bayangannya sendiri di cermin. Mereka berbaikan, dan membawa cahaya kembali ke alam semesta.
 
Cermin dan harta karun lainnya akhirnya sampai ke cucu Amaterasu, Ninigi.
 
Menurut legenda, kata Takenaka, sang dewi memberi tahu Ninigi: "Jadikan cermin ini sebagai jiwaku, sama seperti Anda akan melayani saya, dengan pikiran dan raga yang sehat."
 
Ninigi diyakini sebagai kakek buyut Jimmu, yang menurut legenda menjadi kaisar pertama Jepang pada 660 Sebelum Masehi.
 
Kusanagi no Tsurugi -- pedang suci
 
Harta Karun Misterius Kekaisaran Jepang
Kusanagi no Tsurugi. (Foto:BBC/DAVIESSURYA)
 
Lokasi Kusanagi no Tsurugi -- atau pedang pemotong rumput -- tidak jelas, tetapi mungkin ada di Kuil Atsuta di Nagoya. Legenda mengatakan pedang itu tumbuh di ekor seekor ular berkepala delapan yang melahap putri-putri keluarga kaya.
 
Sang ayah memohon bantuan Susanoo, menjanjikan pernikahan dengan anak perempuannya yang tersisa jika dia bisa menyingkirkan ular itu. Susanoo menipu si ular agar mabuk, lalu memotong ekornya menjadi sebilah pedang.
 
Tapi dia tidak terlalu lama memiliki Kusanagi no Tsurugi, karena digunakan dalam upayanya untuk berbaikan dengan saudara perempuannya, Amaterasu.
 
Pedang Kusanagi no Tsurugi mewakili keberanian kaisar. Karena informasi mengenai pedang itu begitu sedikit, sejumlah orang mempertanyakan apakah Kusanagi no Tsurugi sebenarnya masih ada. Seorang pendeta Shinto yang mengaku telah melihat pedang tersebut pada periode Edo (beberapa waktu antara abad ke-17 dan 19) telah diusir dari kuilnya.
 
Ada desas-desus bahwa pedang itu mungkin telah hilang di laut selama pertempuran abad ke-12. Tetapi Takenaka mengatakan bahwa pedang yang hilang di laut itu juga adalah duplikat. Duplikat dari duplikat itu diyakini disimpan di istana, dan digunakan dalam prosesi penobatan.
 
Ketika Kaisar Akihito naik takhta pada 1989, ia diberi pedang yang disebut Kusanagi no Tsurugi. Tapi kotak yang diberikan padanya tetap tertutup rapat.
 
Yasakani no Magatama -- permata suci
 
Harta Karun Misterius Kekaisaran Jepang
Yasakani no Magatama. (Foto:BBC/DAVIESSURYA)
 
Magatama adalah jenis manik melengkung yang mulai dibuat di Jepang sekitar 1.000 tahun Sebelum Masehi. Awalnya hanya bersifat dekoratif, namun permata itu kemudian memiliki nilai simbolis.
 
Menurut legenda, Yasakani no Magatama adalah bagian dari kalung yang dibuat oleh Ame-no-Uzume, dewi kegembiraan, yang memainkan peran sentral dalam upaya memikat Amaterasu dari gua tempatnya bermukim. Dia melakukan tarian meriah, mengenakan manik-manik, guna menyebabkan keributan dan menarik perhatian dewi matahari.
 
Apa pun asalnya, Yasakani no Magatama, terbuat dari batu giok hijau, mungkin satu-satunya "yang asli" yang masih ada di antara tiga Harta Karun Kekaisaran. Permata itu ditempatkan di istana kekaisaran di Tokyo, dan dalam upacara penobatan mewakili kebajikan yang diperlukan oleh seorang kaisar.
 
Apakah orang Jepang percaya pada harta karun itu?
 
Walau para kaisar Jepang mengaku sebagai keturunan Amaterasu, sejak era Hirohito hal tersebut tidak lagi dilakukan. Kaisar Hirohito melepaskan status ilahi dirinya setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia Kedua.
 
Profesor Kawanishi mengatakan ada banyak warga Jepang yang masih menganggap Harta Karun Kekaisaran itu memiliki kekuatan ilahi. Tetapi banyak juga orang yang "menganggapnya sekarang hanya sebagai ornamen, mirip dengan mahkota di kerajaan lain."
 
"Ketiga harta itu tetap penting karena "menunjukkan misteri seorang kaisar, dan sebagai simbol bahwa sistem kekaisaran telah berlanjut untuk waktu yang lama," kata Profesor Kawanishi.
 
Takenaka mengatakan ada juga pandangan di antara para cendekiawan bahwa barang-barang tersebut merupakan perpaduan dari kelompok-kelompok adat kuno Jepang dengan 'pendatang baru.'
 
Berdasarkan teori itu, katanya, tiga Harta Karun Kekaisaran itu merupakan simbol yang harus digunakan kaisar untuk semua kelompok etnis tanpa diskriminasi.
 
Namun dia menambahkan bahwa pada abad ke-20, istilah "Tiga Harta Karun" juga memiliki makna yang sedikit lebih praktis, menjadi ungkapan untuk tiga hal yang sangat dibutuhkan warga Jepang kala itu: televisi, kulkas, dan mesin cuci.
 
Baca:Akhir Sebuah Zaman di Jepang, Kaisar Siap Turun Takhta

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif