Warga Uighur di Masjid Id Kah, wilayah Kashgar, Xinjiang. (Foto: AFP).
Warga Uighur di Masjid Id Kah, wilayah Kashgar, Xinjiang. (Foto: AFP).

Perusahaan Pengawasan Tiongkok Lacak Jutaan Uighur di Xinjiang

Internasional uighur
Sonya Michaella • 19 Februari 2019 10:03
Beijing: Sebuah perusahaan pengawasan melacak gerakan 2,5 juta orang yang tinggal di Xinjiang, Tiongkok. Data ini dibocorkan oleh seorang pakar internet asal Belanda.
 
Victor Gevers, dari GDI Foundation, menemukan database online yang berisi nama, jenis kelamin, etnis, nomor kependudukan, serta tanggal lahir para warga Xinjiang, yang mayoritas merupakan Muslim Uighur.
 
Dilansir dari laman Guardian, Selasa 19 Februari 2019, pengawasan juga termasuk CCTV di sejumlah lokasi yang kerap dilewati warga, seperti masjid, hotel, kantor polisi, dan restoran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Database online ini dibiarkan tidak terlindungi selama berbulan-bulan oleh SenseNets Technologi Ltd, perusahaan teknologi pengenalan wajah yang bermarkas di Shenzhen.
 
Baca:PBB Periksa Catatan HAM Tiongkok Terkait Uighur
 
"Database ini sepenuhnya terbuka. Anda bisa mengakses, membaca, bahkan menghapusnya," kata Gevers.
 
Gevers juga menemukan bahwa ada lima alat pelacak di lima masjid di kawasan Emin, Xinjiang, dengan status 'berhasil terdaftar.'
 
"Sistem seperti ini jelas tidak aman karena diduga dioperasikan dengan satu tujuan. Ini merupakan alat yang didanai Tiongkok untuk melacak Muslim Uighur di Xinjiang," ujar dia lagi.
 
Diketahui bahwa SenseNets bekerja sama dengan kepolisian Tiongkok di sejumlah kota. Perusahaan induk NetPosa Technoloies Ltd, yang sahamnya
tercatat di bursa Shenzhen, memiliki kantor di sebagian besar provinsi Tiongkok dan kawasan lainnya, termasuk Xinjiang.
 
Baca:HRW Tuding Tiongkok Tahan Jutaan Minoritas Uighur
 
Hingga saat ini, tudingan Tiongkok menahan sekitar satu juta Uighur masih berembus kencang. Mereka diduga ditempatkan di dalam kamp rahasia di Xinjiang, di mana mereka menjalani 'pendidikan politik'.
 
Muslim Uighur yang mayoritas berasal dari Turki ini ditangkap dan ditahan karena dituduh berhaluan ekstrem, yang salah satu indikasinya adalah pernah mengunjungi satu dari 26 negara yang dianggap sensitif oleh Tiongkok.
 
Namun, pemerintah Beijing membantah laporan tersebut. Pemerintah menyangkal bahwa mereka bukan dipenjara, melainkan berada di pusat pelatihan kejuruan, salah satu inisiatif pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mobilitas sosial di Xinjiang.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif