Protes di Hong Kong sudah memasuki pekan ke-10. (Foto: AFP).
Protes di Hong Kong sudah memasuki pekan ke-10. (Foto: AFP).

Tindak Keras Hong Kong, Bisa Rusak Reputasi Tiongkok

Internasional hong kong
Marcheilla Ariesta • 16 Agustus 2019 10:04
Jakarta: Protes yang terjadi di Hong Kong terus berlanjut. Namun, Tiongkok dinilai tidak begitu 'keras' dalam mengambil tindakan untuk protes ini, berbeda dengan saat mereka menghadapi kasus Tiananmen.
 
Hal ini dibenarkan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah. Dia menilai saat menghadapi kasus Tiananmen, Beijing belum percaya diri.
 
"Peristiwa Tiananmen terjadi saat pimpinan nasional di Beijing belum percaya diri secara politik. Pimpinan di Beijing saat itu sangat kuatir melihat contoh yang terjadi di Berlin dan Moskow, di mana kerusuhan bisa berdampak pada goyahnya kepemimpinan nasional," tutur Rezasyah kepada Medcom.id, Jumat, 16 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menambahkan ekonomi yang mengkombinasikan sosialisme ala Tiongkok dan liberalisme kala itu belum menunjukkan format yang stabil. Tindakan berbeda diambil untuk mengatasi protes di Hong Kong yang sudah terjadi lebih dari 10 pekan.
 
Menurut Rezasyah, krisis di Hong Kong, jika Tiongkok menggunakan kekerasan, dapat berpotensi rusaknya reputasi Beijing sebagai Negara Adi Kuasa.
 
"Jika krisis di Hongkong dijawab dengan kekerasan, berpotensi rusaknya reputasi Beijing sebagai adi kuasa, yang gagal mengelola krisis secara damai," imbuhnya.
 
Dia menuturkan pemimpin di Beijing sudah sangat percaya diri. Reza menambahkan Negeri Tirai Bambu yakin aksi protes di Hong Kong akan berhenti dengan sendirinya.
 
"Pelaku ekonomi di Hong Kong sudah sadar sendiri. Jika mereka terlalu menuntut dan menekan, maka Beijing sudah memiliki berbagai skenario yang akan merugikan mereka sendiri secara jangka panjang," terangnya.
 
Reza mengatakan protes kali ini sulit didukung Uni Eropa serta Amerika Serikat. Pasalnya, negara-negara tersebut menguatirkan prospek ancaman ekonomi dari Beijing.
 
Baca juga:Trump Sarankan Presiden Tiongkok Temui Pedemo Hong Kong
 
Ini terlihat dari respons Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Presiden Tiongkok Xi Jinping bisa menyelesaikan protes Hong Kong secara manusiawi. Trump sempat dikecam karena tidak 'garang' terhadap Tiongkok atas kasus protes di Hong Kong.
 
Trump sendiri hanya menyarankan Xi untuk bertemu dengan para demonstran, demi meredam kerusuhan.
 
"Jika Presiden Xi bertemu langsung dengan para pedemo, akan ada penyelesaian untuk masalah di Hong Kong. Saya bisa pastikan itu," cuit Trump.
 
Sementara itu, ribuan personel militer Tiongkok diarak di sebuah stadion olahraga di sebuah kota di seberang perbatasan dari Hong Kong pada Kamis, 15 Agustus.
 
Baca juga:Unjuk Kekuatan Militer Tiongkok di Perbatasan Hong Kong
 
Kendaraan lapis baja juga terlihat di dalam stadion di Shenzhen. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Tiongkok dapat melakukan intervensi untuk mengakhiri 10 minggu aksi unjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong.
 
Para pengunjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong, sebuah kota semi-otonom Tiongkok, telah melakukan protes tanpa henti selama 10 minggu untuk menuntut hak dan kebebasan yang lebih besar.
 
Hong Kong diperintah di bawah kerangka hukum "satu negara, dua sistem" sejak penyerahannya ke Tiongkok dari Inggris pada tahun 1997.
 
Hong Kong memungkinkan kebebasan sipil yang jauh lebih besar daripada yang ada di daratan, tetapi para pengunjuk rasa mengatakan bahwa kebebasan itu terkikis ketika gangguan Tiongkok daratan tumbuh.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif