Han Kuo-yu berbicara dalam sebuah acara kampanye di Taipei, Taiwan, 1 Juni 2019. (Foto: AFP/DANIEL SHIH)
Han Kuo-yu berbicara dalam sebuah acara kampanye di Taipei, Taiwan, 1 Juni 2019. (Foto: AFP/DANIEL SHIH)

Tokoh Pro-Tiongkok akan Hadapi Petahana di Pilpres Taiwan

Internasional politik tiongkok taiwan
Willy Haryono • 15 Juli 2019 11:47
Taipei: Seorang wali kota populis Taiwan yang dikenal dekat dengan Tiongkok, Senin 15 Juli 2019, mencalonkan diri sebagai kandidat dari kubu oposisi untuk pemilihan umum presiden tahun depan. Ia akan menjadi lawan berat Tsai Ing-wen, presiden petahana yang berusaha menjauhkan Taiwan dari Tiongkok.
 
Han Kuo-yu berhasil menjadi pemenang dalam nominasi partai oposisi Taiwan, Kuomintang. Ia dengan mudah mengalahkan miliarder pendiri Foxcoon, Terry Gou.
 
Berusia 62 tahun, popularitas Han di Taiwan meroket dalam dua tahun terakhir. Awalnya nama pria tersebut kurang dikenal, namun kini mampu menjadi tokoh utama dari Kuomintang lewat fenomena bertajuk "Gelombang Han."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebagian warga Taiwan menilai gaya kepemimpinan Han mirip dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan beberapa tokoh populis lainnya yang datang dari luar lingkaran pemerintah. Ia menjanjikan para pendukungnya akan bertambah kaya jika dirinya terpilih sebagai presiden.
 
Dalam nominasi Kuomintang, dikutip dari laman AFP, Han meraih 45 persen suara. Raihannya jauh meninggalkan Gou yang hanya mendapat 28 persen suara.
 
Nama Han kurang dikenal sebelum dirinya menjadi wali kota Kaohsiung dalam pemilu lokal tahun lalu. Banyak warga Taiwan tidak menyangka Han akan menang, karena Kaohsiung dinilai sebagai basis dari Partai Progresif Demokratik milik Presiden Tsai.
 
Tokoh Pro-Tiongkok akan Hadapi Petahana di Pilpres Taiwan
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. (Foto: AFP)
 
Selain menjanjikan peningkatan kesejahteraan warga, Han juga bertekad akan memulihkan hubungan baik Taipei dengan Beijing.
 
Hubungan Taiwan dan Tiongkok memburuk sejak Tsai berkuasa tiga tahun lalu. Tsai dan partainya menolak mengakui Taiwan sebagai bagian dari kebijakan "Satu Tiongkok."
 
Sejak Tsai terpilih, Tiongkok memutus komunikasi resmi dengan Taiwan, meningkatkan latihan militer dan tekanan ekonomi terhadap pulau tersebut.
 
Taiwan telah menjadi negara berdaulat de facto sejak berakhirnya perang sipil pada 1949. Namun Tiongkok masih memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, dan bertekad akan merebutnya kembali, dengan kekuatan militer jika diperlukan.
 
Baca:Taiwan Desak Tiongkok Minta Maaf Atas Tragedi Tiananmen

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif