Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon. (AFP)
Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon. (AFP)

Tolak Laporan Pentagon, Tiongkok: AS Picu Ketegangan Nuklir, Bukan Kami

Marcheilla Ariesta • 30 November 2022 16:07
Beijing: Seorang pejabat Tiongkok menolak karakterisasi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon seputar kapabilitas Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang semakin berkembang. Menurutnya, Amerika Serikat (AS) adalah pihak yang selama ini memicu ketegangan nuklir, bukan Tiongkok.
 
Pentagon menerbitkan penilaian terbarunya mengenai 'Perkembangan Militer dan Keamanan Terkait Republik Rakyat Tiongkok' pada Rabu, 30 November 2022. Pentagon mencatat sejumlah poin, termasuk peningkatan senjata nuklir serta rudal balistik Negeri Tirai Bambu.
 
Laporan tersebut memperkirakan bahwa Pasukan Roket PLA telah menggandakan jumlah rudal balistik antarbenua (ICBM) mereka, dari 150 menjadi 300.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"PLA berusaha melipatgandakan hulu ledak nuklirnya dari yang ada saat ini, yakni di atas 400 menjadi 1.500 pada 2035 mendatang," demikian dikutip Newsweek dari laporan tersebut.
 
Juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington DC, Liu Pengyu, berpendapat jika penilaian Pentagon tersebut sama seperti laporan serupa di masa lalu. "Laporan ini hanya mengabaikan fakta dan sarat dengan bias," ucapnya.
 
Menurut Liu, laporan terbaru Pentagon memanipulasi retorika dengan tujuan membingungkan opini publik yang dilihat komunitas internasional. "Faktanya, sumber utama ancaman nuklir di dunia tidak lain adalah AS sendiri," tegasnya.
 
Liu menuturkan, meski memiliki persenjataan nuklir terbesar dan tercanggih di dunia, Negeri Paman Sam masih menginvestasikan triliunan dolar untuk meningkatkan 'triad nuklir.'
 
"Mereka terus mengembangkan senjata nuklir dan menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir," sambungnya.
 
Washington memiliki total 5.500 hulu ledak nuklir, berdasarkan data Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI). Sedangkan menurut data Federasi Ilmuwan Amerika (FAS), angkanya berkisar 5.428.
 
SIPRI dan FAS memperkirakan, sekitar 1.744 hulu ledak tersebut saat ini berstatus aktif.
 
Sementara itu, persenjataan nuklir AS dan Rusia terikat dalam Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (NEW START). Mengenai upaya non-proliferasi sebelumnya, Liu mencatat bagaimana AS pernah menarik diri dari instrumen hukum dalam pengendalian senjata.
 
Penarikan diri ini termasuk dari Perjanjian Anti-Balistik Rudal (ABM) yang dibatalkan Presiden George W. Bush pada 2002, dan Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) yang ditinggalkan eks Presiden Donald Trump pada 2019.
 
Di saat yang sama, kata Liu, AS terus memajukan pengerahan sistem anti-rudal di seluruh dunia. "AS melanjutkan penelitian dan pengembangan serta pengujian rudal berbasis darat jarak menengah dan berusaha untuk menyebarkannya di Eropa dan Asia-Pasifik, dan membentuk kelompok kecil dengan nada Perang Dingin yang kuat melalui kerja sama kapal selam nuklir AUKUS," ungkapya.
 
AUKUS adalah pakta trilateral yang mencakup kerja sama kapal selam nuklir. Pakta ini diumumkan antara AS, Australia, dan Inggris tahun lalu, dan mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk negara-negara Asia Tenggara.
 
Baca:  Rusia Sebut AS Percepat Penyebaran Senjata Nuklir Taktis di Eropa
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif