Ashraf Ghani buka-bukaan soal dialog Trump dan Taliban./AFP
Ashraf Ghani buka-bukaan soal dialog Trump dan Taliban./AFP

Eks Presiden Afghanistan: Kesepakatan Trump dan Taliban Adalah Bencana

Marcheilla Ariesta • 15 Agustus 2022 08:57
Washington: Mantan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani mengatakan, kesepakatan pemerintahan eks Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Taliban adalah bencana. Kesepakatan itu dimaksudkan mengarah pada penarikan pasukan AS dari negara tersebut.
 
Dalam sebuah acara di CNN, Ghani mengatakan, dia mengkritik pemerintah Afghanistan yang dikeluarkan dari pembicaraan itu di awal dialog terjadi.
 
Ghani menolak mengatakan, dirinya merasa dikhianati AS, namun ia menuturkan jika kesepakatan Trump dengan Taliban adalah bencana. Ia menambahkan, ada bagian yang dipimpin Afghanistan dari proses itu yang dibajak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami dikeluarkan dari meja perdamaian, dan proses perdamaian sangat cacat. Asumsi bahwa Taliban telah berubah—adalah khayalan," katanya dikutip oleh The Hill, Senin, 15 Agustus 2022.
 
Baca juga: Taliban Berikan Pengampunan untuk Presiden Ghani dan Memintanya Kembali
 
"Prosesnya melanggar segala hal—dari Acheson dan Marshall hingga Kissinger dan Baker, mengenai persiapan, mengenai organisasi, kami tidak pernah berdiskusi," sambungnya.
 
Dalam acara tersebut, Ghani mengatakan, Trump awalnya mengatakan strategi Afghanistan dan Asia Selatannya akan menjadi kesepakatan berdasarkan kondisi. 
 
"Perjanjian ini seharusnya bersyarat. Tapi tak satu pun dari kondisi inti tidak hanya diamati. Pemerintah, mitra kami, pemerintah Amerika Serikat menjadi penegak perjanjian Taliban pada kami, mengancam kami dengan penghentian bantuan, dengan segala bentuk tekanan yang mungkin untuk membebaskan 5.000 penjahat paling kejam, dan sebagainya," ungkap Ghani.
 
Pernyataan Ghani datang hampir satu tahun setelah penarikan AS yang kacau dari Afghanistan, yang akhirnya dieksekusi oleh pemerintahan Biden.
 
Penarikan pasukan menyebabkan Taliban mendapatkan kembali kendali penuh atas negara itu, yang mengakibatkan ribuan warga Afghanistan mati-matian melarikan diri dari negara itu karena ketakutan. Negara ini kini memiliki tingkat pengangguran yang tinggi, kerawanan pangan yang melonjak dan kemunduran bagi perempuan yang mencari pendidikan.
 
Ghani, yang melarikan diri dari negara itu di tengah kekacauan, mengatakan dia berharap untuk kembali ke Afghanistan dalam waktu dekat.
 
"Saya ingin bisa membantu negara saya sembuh," katanya. 
 
"Dan saya berharap dapat melakukan itu dari tempat di mana setiap sel tubuh saya berada dan tanpanya saya selalu merasa asing," pungkasnya.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif