Ribuan orang mengepung gedung parlemen Kirgistan di Bishkek pada Senin, 5 Oktober 2020. (VYACHESLAV OSELEDKO/AFP/AFP/Getty)
Ribuan orang mengepung gedung parlemen Kirgistan di Bishkek pada Senin, 5 Oktober 2020. (VYACHESLAV OSELEDKO/AFP/AFP/Getty)

PM dan Ketua Parlemen Kirgistan Mundur di Tengah Aksi Protes

Internasional Politik Kirgistan Sooronbay Jeenbekov
Willy Haryono • 07 Oktober 2020 08:18
Bishkek: Perdana Menteri Kirgistan Kubatbek Boronov dan Ketua Parlemen Dastan Dzhumabekov mengundurkan diri pada Selasa, 6 Oktober, di tengah gelombang aksi unjuk rasa masif di negara tersebut. Di hari yang sama, jajaran deputi di parlemen Kirgistan menggelar pertemuan darurat dan menunjuk ketua baru serta pelaksana tugas PM.
 
Plt PM Kirgistan, Sadyr Zhaparov, dipilih dalam sebuah rapat darurat di sebuah hotel setelah demonstran menguasai gedung parlemen.
 
Zhaparov dibebaskan dari penjara di tengah aksi protes menentang hasil pemilihan umum parlemen. Ia pernah dipenjara atas tuduhan menyandera seseorang saat terjadinya aksi kerusuhan di tahun 2013.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dikutip dari CGTN pada Rabu, 7 Oktober 2020, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyerukan semua pihak terkait di Kirgistan untuk berdialog dan menyelesaikan masalah "di dalam kerangka konstitusi."
 
Sementara itu di Moskow, juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada awak media bahwa Kremiln "khawatir" atas kerusuhan di Kirgistan.
 
Di Amerika Serikat, jubir Kementerian Luar Negeri AS mendorong adanya solusi damai dalam ketegangan politik di Kirgistan. "Kami meminta semua kubu untuk menahan diri dan menyelesaikan masalah pemilu melalui cara damai," ucapnya.
 
Menyebut bahwa stabilitas dan pembangunan berkesinambungan di Kirgistan sebagai faktor penting dalam kesejahteraan kawasan Asia Tengah, Uzbekistan juga mengekspresikan kekhawatiran mendalam atas krisis politik di negara tetangganya. Uzbekistan berharap Kirgistan dapat segera menyelesaikan konflik dan mencapai stabilitas seperti sedia kala.
 
Pemilu parlemen Kirgistan digelar pada Minggu, 4 Oktober. Para demonstran menuding adanya kecurangan karena hanya ada empat dari 16 partai politik yang lolos ke parlemen. Keempat partai itu dicurigai karena memiliki kedekatan dengan Presiden Kirgistan, Sooronbay Jeebenkov.
 
Komisi Elektoral Sentral Kirgistan mengatakan bahwa pihaknya telah "membatalkan hasil pemilu" di tengah tudingan adanya berbagai kecurangan, termasuk dugaan pembelian suara secara masif.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif