Taliban dan para pendukungnya berkumpul di suatu area terbuka di Kabul, 3 Oktober 2021. (AFP)
Taliban dan para pendukungnya berkumpul di suatu area terbuka di Kabul, 3 Oktober 2021. (AFP)

Taliban Tuduh AS 'Curi' Aset Beku Afghanistan

Medcom • 15 Februari 2022 15:55
Kabul: Kelompok Taliban mengeluarkan peringatan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, yang isinya adalah desakan agar Washington mencairkan total aset beku senilai USD7 miliar kepada Afghanistan.
 
Beberapa hari lalu, Joe Biden telah menandatangani sebuah perintah eksekutif yang mencairkan aset beku tersebut. Namun, dana yang disalurkan kepada masyarakat Afghanistan hanya separuhnya, yakni USD3,5 miliar. Separuhnya lagi dialokasikan untuk korban terorisme 11 September 2001 atau 9/11.
 
"Setiap penyalahgunaan dari dana tersebut merupakan pelanggaran terhadap perjanjian yang dicapai dengan Emirat Islam Afghanistan,” kata juru bicara Taliban Inamullah Samangani, dilansir dari RT, Selasa, 15 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau AS melanjutkan tindakan provokatifnya, Emirat Islam terpaksa akan mempertimbangkan kembali beberapa kebijakan tertentu," lanjutnya.
 
Taliban menegaskan peristiwa 9/11 tidak ada hubungannya dengan Afghanistan, sehingga apa yang telah diputuskan Biden merupakan suatu bentuk “pencurian."
 
Baca:  Mantan Presiden Afghanistan Kecam Pencairan Aset Beku Kabul untuk Korban 9/11
 
Pemerintahan AS di bawah presiden George Bush menginvasi Afghanistan tak lama setelah 9/11, namun tanpa adanya bukti kuat bahwa Taliban turut terlibat dengan al-Qaeda yang merupakan dalang di balik serangan tersebut.
 
AS menduga Bin Laden bersembunyi di Afghanistan pada saat pembajakan pesawat 9/11, di mana Taliban setuju untuk menyerahkannya ke AS jika ia diproses hukum secara adil. Bush menolak tawaran tersebut dengan menyatakan bahwa kebijakan AS adalah tidak "bernegosiasi dengan teroris."
 
Alih-alih menangkap Bin Laden dan mengadilinya atas serangan World Trade Center (WTC), AS menginvasi Afghanistan. Pasukan AS dan NATO terus tinggal di sana selama dua dekade, dalam misi pembangunan bangsa yang berakhir gagal. 
 
Taliban kemudian kembali berkuasa pada Agustus tahun lalu, memicu perginya semua pasukan AS dari negara tersebut.
 
"Agar AS dapat terhindar dari celaan internasional dan tidak merusak hubungannya dengan rakyat Afghanistan, AS harus membatalkan keputusannya yang menyita miliaran dolar milik Afghanistan," kata Taliban menyimpulkan peringatannya kepada Biden.
 
"Bebaskan kekayaan rakyat Afghanistan tanpa syarat apapun," pungkasnya. (Kaylina Ivani) 
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif