Militer Korsel menuduh tentara Korut telah menembak mati pejabat Seoul, dan kemudian membakarnya di dekat perbatasan laut. Diduga pria itu dibunuh untuk mencegah risiko wabah virus korona (covid-19) di Korut.
Para pejabat di Seoul meminta Korut untuk menyetujui penyelidikan bersama atas insiden tersebut. Presiden Korsel, Moon Jae-in mengatakan bahwa hotline militer dengan Korea Utara harus dipulihkan untuk mencegah insiden yang tidak terdua.
Dilansir dari AFP, Senin, 28 September 2020, Korut memutuskan hotline antar-Korea tahun ini karena hubungan kedua negara yang memburuk.
Insiden pembunuhan pejabat Korsel oleh tentara Korut ini membuat pemimpin Korut, Kim Jong-un meminta maaf. Lewat sebuah surat, ia mengatakan tak seharusnya insiden tersebut terjadi.
Presiden Moon menyebut permintaan maaf Kim sangat langka. "Permintaan maaf tersebut sangat langka dan istimewa. Belum pernah terjadi sebelumnya," kata dia.
Ia menduga, ini tanda bahwa Pyongyang tak ingin hubungan dengan Seoul memburuk.
"Komunikasi harus terus dilanjutkan untuk mencegah masalah di masa depan," tambah Moon.
Hingga hari ini, Korut belum menanggapi seruan untuk penyelidikan bersama. Pada akhir pekan kemarin, media pemerintah mengeluarkan pernyataan yang mengeluhkan bahwa operasi angkatan laut Korsel telah memasuki perairan teritorialnya di daerah itu.
"Kami tidak pernah melintasi Garis Batas ke sisi Utara, tetapi ada perbedaan dalam cara kedua Korea menandai perairan," kata Penjaga Pantai Korsel, Letnan Lee Hong-chear. Pernyataannya mengacu pada demarkasi maritim yang disengketakan yang berasal dari akhir Perang Korea 1950-1953.
Sedikitnya, enam pesawat dan 45 kapal ikut serta dalam pencarian, termasuk 36 kapal dari penjaga pantai dan angkatan laut, serta sembilan kapal dari kementerian perikanan dan swasta.
Korut mengatakan mereka juga tengah melakukan pencarian tubuh itu secara terpisah. Pyongyang juga sedang mempertimbangkan cara untuk menyerahkannya ke Korsel jika ditemukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News