Pemimpin Korut Kim Jong-un. (Foto: KCNA/AFP)
Pemimpin Korut Kim Jong-un. (Foto: KCNA/AFP)

Korut Tuduh Korsel Langgar Perbatasan saat Mencari Jasad Pejabat

Internasional korea utara korea selatan
Willy Haryono • 27 September 2020 15:04
Pyongyang: Korea Utara menuduh Korea Selatan telah melanggar perbatasan laut dalam mencari jasad seorang pejabat yang baru-baru ini tewas ditembak pasukan Korut. Pyongyang mengingatkan, pelanggaran perbatasan dapat meningkatkan ketegangan antar kedua negara.
 
Sebelumnya, Seoul melaporkan bahwa pemimpin Korut Kim Jong-un telah menyampaikan permohonan maaf atas penembakan seorang pejabat Korsel pekan kemarin. Pejabat Korsel berusia 47 tahun itu ditembak saat diduga hendak membelot ke Korut.
 
"Kami meminta pihak Selatan untuk segera menghentikan intrusi ke garis demarkasi militer di Laut Barat yang mungkin dapat meningkatkan ketegangan," ujar pernyataan Korut di kantor berita Korean Central News Agency (KCNA), Minggu 27 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jangan sampai intrusi berujung pada insiden buruk lainnya," sambung media tersebut.
 
Sabtu kemarin, Seoul meminta Pyongyang menginvestigasi lebih jauh penembakan pejabat Korsel. Korsel mewacanakan investigasi dapat dilakukan secara bersamaan di dua kubu.
 
Militer Korsel telah menuding prajurit Korut membunuh pejabat tersebut, kemudian menyiram jasadnya dengan minyak, dan membakarnya di dekat perbatasan laut kedua negara. Namun Korut mengaku hanya menemukan banyak darah di objek terapung di perbatasan, sementara jasadnya tidak ditemukan.
 
Masih dari KCNA, otoritas Korut disebut-sebut sedang mempertimbangkan cara menyerahkan jasad pejabat itu ke Korsel saat ditemukan nanti.
 
Sejauh ini Korsel telah memobilisasi 39 kapal, termasuk 16 dari Angkatan Laut, dan enam pesawat tambahan. Pencarian jasad pejabat tetap dilanjutkan meski ada keluhan dari Korut.
 
KCNA melaporkan, kubu Korut juga sedang melakukan operasi pencarian pejabat tersebut. "Kami juga mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan tidak ada insiden lain yang dapat merusak kepercayaan dan rasa hormat antar Utara dan Selatan," tulis laporan di KCNA.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif