Sekjen PBB Antonio Guterres. (AFP)
Sekjen PBB Antonio Guterres. (AFP)

Rakyat Afghanistan Jual Anak dan Organ Tubuh di Tengah Krisis Ekonomi

Medcom • 02 April 2022 19:33
New York: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis, 31 Maret, mengatakan rakyat di Afghanistan menjual anak-anak dan organ tubuhnya demi menghidupi keluarga di tengah krisis ekonomi.
 
"Tanpa tindakan segera, kita menghadapi krisis kelaparan dan kurang gizi di Afghanistan," kata Guterres dalam pidatonya di New York.
 
"Orang-orang sudah menjual anak-anak mereka dan bagian tubuh mereka, untuk memberi makan keluarganya," ucapnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rakyat Afghanistan kini menderita di mana 80 persen populasi terlilit utang.
 
Guterres mengatakan bahwa selain masyarakat Afghanistan, ini juga menjadi bencana bagi aktivitas bantuan PBB. Ia pun menyinggung terjadinya lonjakan harga makanan sebagai akibat invasi Rusia terhadap Ukraina.
 
Sekjen PBB juga membahas peringatan dari PBB sebelumnya yang menyebut bahwa 97 persen orang di negara itu kemungkinan hidup di bawah garis kemiskinan pada pertengahan 2022. "Sayangnya, jumlah itu tercapai lebih cepat dari yang diperkirakan," katanya.
 
Setelah Kabul dikuasai oleh Taliban pada Agustus, PBB pada September mengeluarkan peringatan bahwa jutaan warga Afghanistan berisiko mengalami kelaparan.
 
Baca:  Bermain dengan Mortir, 5 Anak Afghanistan Tewas Kena Ledakan
 
Kini, kebutuhan akan bantuan kemanusiaan bertambah tiga kali lipat sejak Juni, beberapa saat sebelum perebutan oleh Taliban. Jumlah tersebut, kata Guterres, terus meningkat “hari demi hari, bulan demi bulan”.
 
Pemimpin PBB itu mengajukan permohonan dana sebesar USD4,4 miliar (Rp63 triliun) untuk Afghanistan.
 
Awal bulan ini, para pemimpin Taliban di Afghanistan menutup sekolah menengah untuk anak perempuan, dengan dugaan akan dibuka kembali ketika ada rencana yang sesuai dengan hukum Islam.
 
Guterres juga mengecam langkah itu, dengan mengatakan "dukungan untuk hak-hak perempuan Afghanistan adalah dukungan yang melepaskan anak-anak dari kelaparan, dan masyarakat keluar dari kemiskinan."
 
"Tidak ada pembenaran untuk diskriminasi semacam itu," pungkasnya. (Kaylina Ivani)
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif