Ratusan orang berunjuk rasa mengecam krisis ekonomi Sri Lanka di Colombo, 9 April 2022. (Ishara S. KODIKARA / AFP)
Ratusan orang berunjuk rasa mengecam krisis ekonomi Sri Lanka di Colombo, 9 April 2022. (Ishara S. KODIKARA / AFP)

Protes Masif Berlanjut di Sri Lanka, Presiden Rajapaksa Kian Tertekan

Willy Haryono • 10 April 2022 14:03
Colombo: Sebuah unjuk rasa masif dalam mendesak pengunduran diri Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa berubah menjadi aksi berkumpul bersama sepanjang malam di Galle Face Green, Colombo, Sabtu, 9 April. Aksi ini dilakukan dalam memprotes pemerintahan Rajapaksa yang dinilai tidak kompeten.
 
Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak merdeka dari Inggris di tahun 1948. Warga telah berunjuk rasa selama berpekan-pekan atas krisis pasokan makanan, bahan bakar, hingga aliran listrik.
 
Sejak Sabtu siang kemarin, para pengunjuk rasa dari berbagai kalangan berjalan bersama menuju Galle Face, lokasi tempat berdirinya gedung sekretariat Rajapaksa. Memasuki malam hari, arus lalu lintas di jalanan utama Galle Road terhenti total karena dipadati pedemo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami masih ada di sini," ucap salah satu demonstran di Galle Road, menuliskan perkembangan terbaru melalui media sosial pada Minggu, 10 April 2022. Sebagian dari mereka mengaku kesulitan mendapatkan sinyal internet.
 
Sebagian pedemo terdengar meneriakkan yel-yel, "pulang Gota" dalam upaya mendesak agar Rajapaksa mau mengundurkan diri.
 
"Ini sudah bukan main-main lagi. Kami ada di sini karena kami tidak mendapat aliran listrik, bahan bakar, gas, dan obat-obatan," ujar seorang demonstran kepada awak media, dikutip dari One India.
 
"(Pemerintah Sri Lanka) harus mundur. Mereka tidak mempunyai solusi apa pun," tutur demonstran lainnya.
 
Aksi protes berskala masif di Colombo dimulai usai sekelompok pedemo di dekat rumah pribadi Rajapaksa diserang gas air mata pada 31 Maret. Kala itu, sejumlah orang ditangkap dan beberapa di antaranya sudah dibebaskan dengan jaminan.
 
Pemerintah Sri Lanka menuduh partai-partai oposisi, terutama Janatha Vikmuthi Peramuna, sebagai pihak di balik gelombang unjuk rasa.
 
Baca:  Krisis Sri Lanka Memburuk, Presiden Rajapaksa Tetap Tak Akan Mundur

 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif