Seorang aktivis mahasiswa India yang ditangkap oleh aparat keamanan. Foto: The Hindu Times
Seorang aktivis mahasiswa India yang ditangkap oleh aparat keamanan. Foto: The Hindu Times

Protes Menentang Larangan Hijab Berujung Penangkapan 50 Siswa India

Medcom • 11 Februari 2022 15:43
Bengaluru: Lebih dari 50 siswa India ditahan ketika hendak melakukan unjuk rasa terkait larangan hijab di Karnataka Bhawan, Chanakyapuri, New Delhi pada Kamis, 10 Februari 2022.
 
“Kami mengadakan protes ini untuk mengangkat suara kami menentang safronisasi (safron-identitas agama Hindu) sistem pendidikan di Karnataka yang telah terjadi sejak partai yang saat ini menguasai pemerintahan, berkuasa (Bharatiya Janata Party/BJP),” ujar salah satu siswa demonstran dari Students’ Federation of India (SFI) saat ditahan, dilansir dari The Hindu, Jumat, 11 Februari 2022.
 
Para siswa hendak berkumpul di luar Karnataka Bhawan pukul 15.00 waktu setempat. Namun, kebanyakan dari mereka ditahan sebelum mencapai titik demonstrasi. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Demo Terkait Hijab Dilarang Meluas, Sekolah di India Tutup 3 Hari.
 
Polisi membawa mereka ke kantor polisi Mandir Marg dari kawasan dekat Assam Bhawan dan Odisha Bhawan menggunakan bus polisi.
 
Para siswa terafiliasi dengan sejumlah organisasi pelajar, seperti All India Students Association (AISA), Students’ Federation of India (SFI) dan Krantikari Yuva Sangathan.
 
Polisi mengatakan bahwa para siswa ditahan hampir dua jam di kantor polisi dan dilepaskan sekitar pukul 18.00. Sejumlah demonstran menyebut petugas kepolisian melakukan "penganiayaan" dan "kekerasan" terhadap mereka. Pihak polisi membantah tuduhan tersebut dengan mengatakan “tidak ada kekerasan” yang digunakan.
 
Aksi protes diadakan oleh sejumlah organisasi pelajar yang menyebut larangan penggunaan hijab merupakan “penargetan komunal” dan “serangan terhadap otonomi perempuan”. Beberapa siswa juga meneriakkan slogan-slogan yang mengecam larangan hijab yang diberlakukan oleh sekolah-sekolah di Karnataka.
 
N. Sai Balaji, presiden nasional AISA yang juga ditahan polisi, mengatakan bahwa tujuan dari demonstrasi tersebut adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pembatasan otonomi perempuan dan pilihan pakaian yang dikenakan. 
 
“Selain mempertanyakan otonomi perempuan, masalah ini dikomunalkan dan sejauh ini tidak ada pemimpin negara bagian atau negara yang mengkritisi insiden tersebut,” ujar presiden pelajar tersebut.
 
Balaji juga menyinggung bahwa hanya hijab yang dipermasalahkan. Sementara simbol agama lainnya tidak, seperti tilak atau sorban. (Kaylina Ivani)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif