Mahasiswa di India menentang aturan yang melarang penggunaan hijab di lingkungan sekolah. Foto: AFP
Mahasiswa di India menentang aturan yang melarang penggunaan hijab di lingkungan sekolah. Foto: AFP

Demo Terkait Hijab Dilarang Meluas, Sekolah di India Tutup 3 Hari

Medcom • 10 Februari 2022 16:06
Bengaluru: Pemerintah negara bagian di selatan India, Karnataka, menutup sekolah menengah dan perguruan tinggi selama tiga hari hingga Jumat, 11 Februari 2022. Ini dilakukan setelah terjadi unjuk rasa dan kekerasan kekerasan atas larangan pemerintah terhadap pemakaian hijab di institusi pendidikan.
 
Demonstran yang berada di pihak pro ataupun kontra melakukan unjuk rasa di sedikitnya lima distrik negara bagian pada Selasa, 8 Februari 2022. Polisi menembakkan gas air mata dan menggunakan tongkat polisi ketika menangani demonstran di distrik Shivamogga, Bagalkot, Davangere dan Udupi. Sekitar 40 siswa dan petugas mengalami luka-luka.
 
Dalam sebuah video dari Shivamogga, terlihat para siswa yang mengenakan selendang safron, identitas agama Hindu, mengangkat bendera safron di kawasan perguruan tinggi negeri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Mahasiswi Berhijab India Dicemooh Kelompok Sayap Kanan saat ke Kampus.
 
Video lain yang beredar luas menunjukkan sejumlah pria dengan selendang safron mengolok seorang mahasiswi berhijab di sebuah perguruan tinggi negeri di Mandya.
 
Seorang mahasiswi Hindu di Udupi yang mengenakan sorban safron mengatakan "pertemanan menjadi rusak karena perdebatan hijab di kampus kami,” dilansir dari The Straits Times, Kamis, 10 Februari 2022.
 
Mahasiswi yang mengaku bernama Bhargavi ini menolak untuk berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya yang Muslim sampai mereka melepas jilbab mereka karena "itu adalah peraturan yang baru".
 
Kontroversi ini dimulai bulan lalu ketika institusi pendidikan dibuka setelah hampir dua tahun lockdown covid-19. Sebuah perguruan tinggi negeri pra-universitas di distrik pesisir Udupi melarang enam mahasiswi Muslim masuk gedungnya karena mengenakan hijab dengan seragam mereka. Para mahasiswa pun menggelar protes di luar gerbang kampus hingga menarik perhatian media.
 
Para pimpinan perguruan tinggi mengatakan kebijakan seragam mereka tidak pernah mengizinkan penggunaan hijab, tetapi para mahasiswa bersikukuh dengan mengatakan aturan tersebut tidak menyebutkan adanya larangan untuk mengenakan hijab.
 
Legislator Udupi K. Raghupathi Bhat yang memimpin komite pengembangan perguruan tinggi yang mengeluarkan larangan hijab, mengatakan kepada Times of India bahwa "tidak pernah mengantisipasi bahwa (protes) akan mencapai tingkat seperti ini".
 
Sepanjang Januari, semakin banyak sekolah dan perguruan tinggi negeri di Karnataka yang memberlakukan larangan serupa.
 
Di sejumlah institusi tertentu yang memperbolehkan pemakaian hijab, beberapa mahasiswa Hindu mengenakan selendang safron dan turban ke kelas sebagai bentuk protes.
 
Isu kian memuncak pada Sabtu, 5 Februari 2022 ketika pemerintah Karnataka mengeluarkan peraturan yang menyatakan siswa dan mahasiswa wajib mematuhi aturan berpakaian yang ditetapkan oleh pemerintah negara bagian, baik institusi pendidikan swasta maupun negeri. Instruksi tersebut mengutip keputusan pengadilan India yang menyebut larangan hijab di kampus tidak bertentangan dengan hak konstitusional.
 
Selasa lalu, Pengadilan Tinggi Karnataka menerima petisi yang diajukan oleh empat mahasiswi Muslim di Udupi yang menentang larangan tersebut. Petisi telah ditindaklanjuti dengan dirujuk ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi.
 
Pemenang Nobel Perdamaian Malala Yousafzai, seorang aktivis kampanye global untuk pendidikan perempuan, menulis di Twitter pada hari Selasa, "Menolak untuk memperbolehkan perempuan pergi ke sekolah dengan hijab mereka adalah hal yang mengerikan. Objektifikasi terhadap wanita masih berlanjut - tidak peduli mengenakan pakaian yang lebih terbuka ataupun lebih tertutup."
 
Hijab merupakan pakaian yang umum dipakai di seluruh India, dan tidak ada batasan penggunaannya di ruang publik.
 
Pesisir Karnataka, tempat terjadinya bentrokan unjuk rasa, telah menjadi lokasi berbagai insiden berbau agama dalam beberapa tahun terakhir. Negara bagian itu, di mana sekitar 13 persen penduduknya adalah Muslim, diperintah oleh Partai Bharatiya Janata, partai nasionalis Hindu yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi.
 
Karnataka akan mengadakan pemilihan umum negara bagian tahun depan.
 
Para pengamat telah menaruh perhatian pada meningkatnya keterlibatan organisasi politik dalam unjuk rasa masyarakat, termasuk Rashtriya Swayamsevak Sangh dan Partai Sosial Demokrat India. (Kaylina Ivani)

 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif