Selandia Baru kerahkan bantuan kemanusiaan untuk Tonga. Foto: New Zealand Defense
Selandia Baru kerahkan bantuan kemanusiaan untuk Tonga. Foto: New Zealand Defense

Bantuan Kemanusiaan Internasional Mulai Tiba di Tonga

Marcheilla Ariesta • 20 Januari 2022 13:36
Nuku'alofa: Pesawat yang membawa pasokan bantuan kemanusiaan dari Australia dan Selandia Baru mulai tiba di Tonga. Bantuan tiba di bandara yang sebelumnya tertutup abu erupsi.
 
Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton mengatakan, sebuah pesawat Angkatan Udara Australia yang membawa bantuan persediaan kemanusiaan dan seorang penyapu telah meninggalkan Brisbane. Pesawat lainnya akan berangkat pada hari ini, Kamis, 20 Januari 2022.
 
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Nanaia Mahuta mengatakan, angkatan udara mereka juga telah mengirimkan pesawat Hercules C-130 dari Auckland dan mendarat di ibu kota Tonga, Nuku'alofa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Saluran Telepon Pulih Sebagian, Warga Tonga Mulai Lakukan Komunikasi.
 
"Pesawat membawa bantuan kemanusiaan dan pasokan bantuan bencana, termasuk wadah air, alat penampungan sementara, generator, peralatan kebersihan dan keluarga, serta peralatan komunikasi," ucap Mahuta, dikutip dari TRT World.
 
Pengiriman pasokan akan dilakukan tanpa kontak dan pesawat diharapkan berada di darat hingga 90 menit sebelum kembali ke Selandia Baru. Hal ini dikarenakan Tonga bebas covid-19 dan mereka khawatir personel bantuan membawa virus.
 
Tak hanya Australia dan Selandia Baru, Jepang juga mengatakan akan mengirimkan bantuan termasuk air minum dan peralatan untuk membersihkan abu vulkanik melalui Badan Kerja Sama Internasional Jepang.
 
Letusan gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha'apai, yang telah menewaskan sedikitnya tiga orang, mengirimkan gelombang tsunami melintasi Pasifik pada Sabtu lalu merusak desa, resor, dan banyak bangunan di Tonga. Ledakan memutus komunikasi bagi negara berpenduduk sekitar 105 ribu jiwa itu.
 
Wartawan lokal Marian Kupu mengatakan orang Tonga sedang dalam proses membersihkan semua debu dari letusan gunung berapi, tetapi takut mereka kehabisan air minum.
 
"Masing-masing rumah punya tangki air sendiri tapi kebanyakan penuh debu sehingga tidak aman untuk diminum," ucap Kupu.
 
Ia menambahkan, beberapa desa di sisi barat Tonga terkena dampak yang sangat parah. "Saya dapat mengatakan mungkin kita dapat bertahan selama beberapa minggu ke depan (untuk makanan), tetapi saya tidak yakin tentang air," lanjutnya.
 
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, sekitar 84.000 orang - lebih dari 80 persen populasi - telah terkena dampak parah dari bencana tersebut.
 
"Mereka terkena dampak karena kehilangan rumah, kehilangan komunikasi, yang kami pahami adalah masalah air," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.
 
Kebutuhan kemanusiaan yang paling mendesak adalah air bersih, makanan dan barang-barang non-makanan. "Air benar-benar merupakan masalah penyelamatan kehidupan terbesar. Sumber air telah tercemar, sistem air mati," pungkas dia.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif