Kritikan WHO untuk strategis 'Nol-Covid' Tiongkok picu sensor di media sosial lokal. Foto: AFP
Kritikan WHO untuk strategis 'Nol-Covid' Tiongkok picu sensor di media sosial lokal. Foto: AFP

Kebijakan ‘Nol-Covid’ Dikritik WHO, Sensor Langsung Diterapkan di Tiongkok

Internasional Tiongkok WHO covid-19 Kasus Covid-19 Tiongkok
Marcheilla Ariesta • 11 Mei 2022 16:53
Jenewa: Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menganggap kebijakan 'nol-covid' milik Tiongkok tidak berkelanjutan. Akibat pernyataannya ini, platform media sosial Tiongkok memblokirnya.
 
Weibo dan WeChat, adalah dua platform media sosial terbesar di Negeri Tirai Bambu menyensor pernyataan Tedros.
 
"Ketika kami berbicara tentang strategi nol-covid-19, kami pikir itu tidak berkelanjutan, mengingat perilaku virus sekarang dan apa yang kami antisipasi di masa depan," ucap Tedros, dilansir dari CNN, Rabu, 11 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Dirjen WHO Sebut Kebijakan Nol Covid Tiongkok Perlu Diubah.
 
"Kami telah membahas masalah ini dengan para ahli dari Tiongkok, dan kami mengindikasikan bahwa pendekatannya tidak akan berkelanjutan, jadi saya pikir perubahan akan sangat penting," serunya.
 
Kritik Tedros datang hanya beberapa hari setelah Presiden Xi Jinping bersumpah akan menggandakan kebijakan ‘nol-covid’. Jinping juga dengan tegas mengatakan akan berjuang melawan semua kritik.
 
Banyak warganet Tiongkok menyerbu akun resmi PBB di Weibo yang mengunggah komentar Tedros. Banyak yang meninggalkan komentar sarkastik terkait pernyataan tersebut.
 
"Berjuang dengan tegas melawan kata-kata dan tindakan apapun yang mendistorsi, meragukan atau menyangkal kebijakan pencegahan dan pengendalian epidemi negara kita. Hancurkan WHO!" kata balasan teratas warganet.
 
Namun, pada Rabu pagi, komentar sudah tidak dapat terlihat karena 'pengaturan privasi penulis'.
 
Masyarakat Tiongkok merasa pendekatan tanpa toleransi terhadap penguncian cepat, pengujian massal dan karantina melindungi mereka dari covid-19 selama dua tahun terakhir. Meski demikian, tetap ada pro-kontra terkait pengetatan kebijakan tersebut.
 
Shanghai, kota terpadat di negara itu, kini tengah terhuyung-huyung dari penguncian yang dilakukan selama enam pekan terakhir. Penguncian yang ketat ini memicu kemarahan publik.
 
Meski demikian, Pemerintah Tiongkok tetap bersikeras dengan kebijakan mereka. "Jika relaksasi dilakukan, pasti akan menyebabkan infeksi skala besar dengan sejumlah penyakit serius dan kematian," kata pemerintah.
 
Pendekatan ketat ini juga diambil karena banyak orang tua di negara itu. Selain itu, sumber daya medis juga tidak mencukupi.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif