Warga Pakistan di tengah banjir bandang./AFP
Warga Pakistan di tengah banjir bandang./AFP

Sekjen PBB Desak Bantuan Internasional untuk Pakistan

Marcheilla Ariesta • 31 Agustus 2022 09:35
Islamabad: Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak komunitas internasional membantu Pakistan dalam menghadapi 'musim hujan steroid' yang mengakibatkan banjir parah. Ia meluncurkan seruan USD160 juta (setara Rp2,3 triliun) untuk membantu puluhan juta orang yang terkena dampak bencana.
 
Ia menyalahkan dampak tanpa henti dari hujan dan banjir yang luar biasa parah di Pakistan. Rekor monsun tahun ini sebanding dengan banjir dahsyat 2010 lalu yang menewaskan lebih dari 2.000 orang di Pakistan.
 
Dalam sebuah pesan video, Guterres menyebut Asia Selatan sebagai "titik panas krisis iklim" di mana orang-orang 15 kali lebih mungkin meninggal akibat dampak iklim.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mari kita berhenti berjalan dalam tidur menuju kehancuran planet kita oleh perubahan iklim. Hari ini, ini Pakistan. Besok, itu bisa menjadi negara Anda," katanya, dikutip dari BBC, Rabu, 31 Agustus 2022.
 
Baca juga: Nilai Dampak Kerusakan Banjir Pakistan Diestimasi Rp148 Triliun
 
Menurutnya, seruan PBB bertujuan untuk memberikan 5,2 juta orang makanan, air, sanitasi, pendidikan darurat dan dukungan kesehatan. Sementara itu, para pejabat memperkirakan bahwa lebih dari 33 juta warga Pakistan - satu dari tujuh orang - terkena dampak banjir.
 
Pada Senin lalu, Menteri Perubahan Iklim Pakistan Sherry Rehman menggambarkan situasi itu sebagai bencana kemanusiaan yang disebabkan oleh iklim. Pakistan menghasilkan kurang dari 1 persen emisi gas rumah kaca global, tetapi secara konsisten menempati peringkat 10 besar negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
 
Banyak faktor yang menyebabkan banjir, tetapi pemanasan atmosfer yang disebabkan oleh perubahan iklim membuat curah hujan ekstrem lebih mungkin terjadi.
 
Dunia telah menghangat sekitar 1,2 derajat Celcius sejak era industri dimulai dan suhu akan terus meningkat kecuali pemerintah di seluruh dunia melakukan pemotongan tajam terhadap emisi.
 
Menteri Perencanaan Pakistan mengatakan perkiraan menunjukkan banjir telah menyebabkan setidaknya USD10 miliar kerusakan, dan banyak orang menghadapi kekurangan makanan yang serius. Padahal, saat ini negara tersebut sudah menderita krisis ekonomi.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif