Seorang warga berjalan di tengah wilayah terdampak banjir di Pakistan. (AFP Photo/Asif Hassan/Abdul Majeed)
Seorang warga berjalan di tengah wilayah terdampak banjir di Pakistan. (AFP Photo/Asif Hassan/Abdul Majeed)

Nilai Dampak Kerusakan Banjir Pakistan Diestimasi Rp148 Triliun

Medcom • 30 Agustus 2022 16:19
Islamabad: Menteri Perencanaan Pembangunan Pakistan Ahsan Iqbal mengatakan bahwa nilai perkiraan awal dari dampak kerusakan akibat banjir mematikan di negaranya mencapai lebih dari USD10 miliar atau setara Rp148 triliun. Ia menambahkan bahwa komunitas internasional memiliki kewajiban membantu Pakistan menghadapi dampak buruk perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.
 
Belum pernah terjadi dalam skala sebesar ini sebelumnya, bencana banjir di Pakistan telah menyapu berbagai ruas jalan, tanaman, infrastruktur dan jembatan, serta setidaknya menewaskan lebih dari 1.000 orang dalam beberapa pekan terakhir.
 
Banjir kali ini disebut otoritas Pakistan berdampak pada lebih dari 33 juta penduduk, sekitar 15 persen dari total 220 juta populasi di negara tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya rasa bencana ini berskala besar. Sejauh ini, perkiraan awal (kerugian) cukup besar, bisa mencapai lebih dari USD10 miliar," ujar Ahsan, dilansir dari Channel News Asia, Selasa, 30 Agustus 2022.
 
"Sejauh ini, kami telah kehilangan 1.000 nyawa penduduk. Kerusakan hampir melanda satu juta rumah," sambung dia.
 
"Banyak masyarakat benar-benar telah kehilangan mata pencaharian mereka," tutur Iqbal.
 
Sementara itu, Menteri Perubahan Iklim Pakistan Sherry Rehman menyebut banjir kali ini merupakan "bencana kemanusiaan yang disebabkan perubahan iklim dengan proporsi epik."
 
"Semuanya telah menjadi satu lautan besar. Tidak ada wilayah kering untuk memompa air keluar," ujar Sherry.
 
"Secara harfiah, sepertiga dari Pakistan berada di bawah air sekarang, yang telah melampaui setiap batas dan setiap norma yang kita lihat di masa lalu," ujarnya kepada AFP.
 
"Kami belum pernah melihat kejadian seperti ini," ungkap Sherry.
 
Iqbal menilai banjir yang terjadi baru-baru ini merupakan yang terburuk dibandingkan banjir Pakistan di tahun 2010. Ia memprediksi upaya rekonstruksi Pakistan dari bencana ini akan memakan waktu sekitar lima tahun.
 
Untuk mengurangi risiko krisis pangan akibat banjir, Menteri Keuangan Pakistan Miftah Ismail mengatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan mengimpor sayuran dari rival terberatnya, India.
 
Pakistan dan India, dua negara bertetangga, selama ini kerap bersitegang dan sudah lama tidak melakukan transaksi perdagangan.
 
"Kami akan mempertimbangkan untuk mengimpor sayuran dari India," kata Ismail kepada stasiun TV lokal, Geo News TV, dengan menambahkan kemungkinan sumber impor makanan lain, termasuk dari Turki dan Iran. 
 
Harga pangan di Pakistan melonjak lantaran banyak tanaman terendam banjir serta tertutupnya sejumlah akses jalan raya untuk proses distribusi.
 
Perdana Menteri India Narendra Modi mengaku turut bersedih atas kehancuran yang diakibatkan banjir di Pakistan.
 
"Kami menyampaikan belasungkawa mendalam bagi para keluarga dari korban, yang terluka, dan seluruh masyarakat yang terkena dampak dari bencana alam ini," tulisnya dalam akun Twitter. (Gracia Anggellica)
 
Baca:  Bantuan Internasional untuk Korban Banjir Pakistan Mulai Berdatangan
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif