Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin saat berbicara secara daring kepada awak media di Jakarta, Selasa, 26 April 2022. (Embassy of Ukraine)
Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin saat berbicara secara daring kepada awak media di Jakarta, Selasa, 26 April 2022. (Embassy of Ukraine)

Dubes Ukraina Tegaskan Rusia Belum Kuasai Sepenuhnya Mariupol

Internasional ukraina rusia indonesia-ukraina Rusia-Ukraina Perang Rusia-Ukraina Rusia vs Ukraina
Willy Haryono • 26 April 2022 12:14
Jakarta: Rusia mengeklaim telah berhasil menguasai kota Mariupol di Ukraina beberapa hari lalu. Namun menurut Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, Rusia belum 100 persen menguasai Mariupol karena sekelompok prajurit beserta warga sipil Ukraina masih berlindung di kompleks industri pabrik baja Azovstal di kota tersebut.
 
"Kompleks pabrik baja Azovstal itu luasnya sepertiga dari Mariupol. Jika pabrik tesebut belum dikuasai, maka Mariupol tidak dapat dikatakan sudah dikuasai," kata Dubes Hamianin dalam keterangan daring kepada awak media di Jakarta, Selasa, 26 April 2022.
 
Ia mengatakan sejak tiga hingga empat hari lalu hingga saat ini, Rusia belum berhenti membombardir kawasan industri Azovstal. Walau banyak warga sipil berlindung di sana, lanjut dia, Rusia tetap melancarkan serangannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dubes Hamianin menyinggung mengenai adanya video yang memperlihatkan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, yang mengatakan bahwa Moskow sudah menghentikan serangan di Azovstal. Menurut Dubes Azovstal, hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
 
"Bayangkan, warga sudah berlindung di Azovstal selama lebih dari satu bulan. Mereka sudah lama tidak melihat matahari. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak," sebut Dubes Hamianin.
 
Senin kemarin, Kemenhan Rusia mengumumkan pembukaan koridor kemanusiaan di pabrik baja Azovstal agar warga sipil dapat dievakuasi dengan aman. Namun pemerintah Ukraina melalui Deputi Perdana Menteri Iryna Vereshchuk membantah telah membuat kesepakatan koridor kemanusiaan dengan Rusia di Azovstal.
 
Menurut Vereshchuk, koridor kemanusiaan semacam itu harus disepakati Rusia dan Ukraina, bukan hanya sepihak oleh Moskow.
 
Alih-alih menyepakati koridor kemanusiaan di Azovstal, Ukraina meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjadi "inisiator dan penjamin" kesepakatan semacam itu.
 
"Perwakilan PBB dan Komite Palang Merah Internasional harus ada di lapangan saat koridor kemanusiaan dibentuk," tegas Vereshchuk.
 
Baca:  Ukraina Ingin PBB Jadi Penjamin Koridor Kemanusiaan di Pabrik Mariupol
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif