Anwar Ibrahim ketika berbicara di hadapan Dewan Rakyat Malaysia. Foto: Malaysia Kini
Anwar Ibrahim ketika berbicara di hadapan Dewan Rakyat Malaysia. Foto: Malaysia Kini

Anwar Ibrahim Tuduh Ada Pengkhianat dalam Koalisi Bentukannya

Internasional anwar ibrahim politik malaysia
Fajar Nugraha • 15 Juli 2020 13:30
Kuala Lumpur: Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim mencurigai ada pengkhianat di dalam tubuh koalisi Pakatan Harapan. Mereka yang berkhianat menurut Anwar tidak tegas membentuk pemerintahan Aliansi Nasional yang baru.
 
Presiden Parti Keadilan Rakyat (PKR) menggambarkan mereka yang membelot dari Pakatan Harapan (PH) sebagai ‘katak’. Hal tersebut diutarakan Anwar pada pertemuan Dewan Rakyat atau parlemen Malaysia pada Selasa 14 Juli.
 
"Pertanyaan pengkhianatan kami masih diperdebatkan. Memang benar pengkhianat itu. Tiga hari sebelumnya di depan saya bertepuk tangan, berteriak, melolong membela Langkawi sampai mati, sampai akhir masa hukuman,” ujar Anwar Ibrahim, seperti dikutip dari Malaysia Kini, Rabu 15 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tiga terakhir melompat seperti katak. Jadi itulah yang kita sebut pengkhianatan. Jadi yang lain tidak khawatir, jangan marah," imbuh Anwar.
 
Baca: Mahathir Isyaratkan Bertarung Jika Ada Percepatan Pemilu Malaysia.
 
Ini adalah debat pertama Anwar di Dewan Rakyat setelah pemerintah PH runtuh pada akhir Februari lalu. Runtuhnya koalisia Pakatan Harapan berujungan pada perubahan pemerintahan setelah 22 bulan memerintah Malaysia.
 
Kini pemerintahan Malaysia dikuasai oleh Koalisi Perikatan Nasional (PN) yang terdiri dari partai Bersatu, BN, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Gabungan Partai Sarawak (GPS) dan Partai Bersatu Sabah (PBS), serta Partai Solidariti Tanah Airku. Muhyiddin Yassin yang memimpin Bersatu, menjadi Perdana Menteri Malaysia.
 
Namun, Anwar hari ini menekankan bahwa dia tidak membantah kekuasaan Yang di-Pertuan Agong untuk menunjuk perdana menteri tetapi mengangkat masalah mandat kepada partai dan bukan pada anggota parlemen.
 
"Yang kami perdebatkan adalah aturan dan etika politik. Kami membantah bahwa mandat ada di individu anggota parlemen. Mandat itu tidak ada di masing-masing anggota parlemen. Mandat ada pada partai. Partai dengan janji yang jelas dalam pemilihan dan janji adalah untuk memberikan kemenangan kepada PH," tegas Anwar.
 
Noh Omar anggota parlemen dari Partai UMNO membantah Anwar, mempertanyakan mengapa selama proses anggota parlemen menghadapi Agong di Istana Negara sebelumnya, mereka melihat dua kandidat dari PH, yakni mantan Perdana Menteri Dr Mahathir Mohamad dan Anwar.
 
"Siapa pengkhianat ini? Port Dickson (wilayah Anwar wakili di parlemen) mengkhianati Langkawi (wilayah yang diwakili Mahathir) atau Langkawi mengkhianati Port Dickson?,” Tanya Noh.
 
Anggota parlemen PH, Abdullah Sani Abdul Hamid dan Akmal Nasir berbicara dan meminta Noh untuk berhenti menyela. Noh mengabaikan peringatan itu dan bertanya apakah Anwar setuju bahwa di PH ada saling mengkhianati.
 
"Saya tidak mempertanyakan itu, saya mempertanyakan prosesnya. Saya secara khusus menyebutkan pengkhianat kami. Apa yang ingin Anda rasakan?”Jawab Anwar.
 
Jawabannya kemudian disela oleh anggota parlemen dari Partai UMNO lainnya, Abdul Azeez Abdul Rahim, yang bertanya kepada Anwar apakah dia setuju bahwa yang terjadi pada PH adalah kesalahan Mahathir.
 
"Apapun argumennya, kita tahu. Apakah orang-orang terhormat setuju bahwa semua perbuatan terhormat Langkawi ini," tanya anggota parlemen dari wilayah Baling.
 
Namun, Anwar menolak untuk menjawab pertanyaan secara langsung dan sebaliknya mengatakan dia ingin melihat ke depan dan melihat perubahan untuk negara.
 
"Tidak punya pertanyaan tentang sejarah. Sejarah saya penuh dengan puluhan tahun penderitaan. Jadi tidak perlu bicara. Tidak ada seorang pun di Malaysia yang telah melalui itu jadi bersabarlah,” pungkasnya.
 

(FJR)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif