Phnom Penh: Ketegangan di Selat Taiwan yang diperparah kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taipei pada Selasa kemarin semakin meningkat. Tiongkok marah besar atas kunjungan tersebut, dan sejumlah pihak khawatir hal ini dapat berujung pada meletusnya konflik terbuka.
Indonesia menekankan bahwa salah satu tindakan yang perlu dilakukan saat ini adalah menahan diri dan tidak melakukan "provokasi."
"Saya menyampaikan kekhawatiran mengenai semakin menajamnya rivalitas di antara kekuatan-kekuatan besar," ucap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tanpa menyebut langsung nama AS dan Tiongkok, di pertemuan 55th ASEAN Foreign Ministers’ Meeting (AMM) di Phnom Penh, Kamboja pada Rabu, 3 Agustus 2022.
"Kalau tidak dikelola dengan baik, maka rivalitas ini dapat menimbulkan konflik terbuka, termasuk di Selat Taiwan," sambungnya.
"Indonesia menekankan pentingnya bagi semua pihak untuk tidak mengambil langkah provokatif yang dapat memperburuk situasi," tegas Menlu Retno.
Ia mengatakan apa yang dibutuhkan dunia saat ini adalah kebijaksaan dan tanggung jawab para pemimpin dunia, "agar perdamaian dan stabilitas di kawasan serta dunia dapat terjaga."
Sebelumnya, juru bicara Kemenlu RI Teuku Faizasyah juga telah menyampaikan pernyataan senada terkait ketegangan di Selat Taiwan. Mengenai sikap politik Indonesia dalam hal ini, Faizasyah mengatakan bahwa Indonesia tetap menghormati prinsip "Satu Tiongkok."
'Satu Tiongkok' merujuk pada kebijakan Negeri Tirai Bambu yang menyatakan hanya ada satu negara berdaulat di bawah nama Tiongkok.
Baca: Tiongkok Berpotensi Lancarkan Serangan atas Kunjungan Pelosi ke Taiwan
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan