Militer Myanmar hingga saat ini masih menahan Aung San Suu Kyi. Foto: AFP
Militer Myanmar hingga saat ini masih menahan Aung San Suu Kyi. Foto: AFP

Pemerintah Bayangan Myanmar Ingin Turut Serta dalam KTT Khusus ASEAN

Internasional konflik myanmar Myanmar asean politik myanmar aung san suu kyi Min Aung Hlaing Kudeta Myanmar
Fajar Nugraha • 19 April 2021 15:04
Yangon: Pemerintah bayangan Myanmar pada Minggu 18 April mendesak para pemimpin Asia Tenggara untuk memberikan kursi selama pembicaraan krisis yang rencananya akan berlangsung pada 24 April. Pemerintahan yang diisi parlemen yang dikudeta junta, mendesak agar ASEAN tidak mengakui rezim militer yang merebut kekuasaan dalam kudeta Februari.
 
Pemimpin Junta Min Aung Hlaing diperkirakan akan bergabung dengan KTT khusus ASEAN pada Sabtu di Jakarta. Ini meruapakan perjalanan resmi pertamanya ke luar negeri sejak kudeta yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.
 
Tentara telah bergerak untuk memadamkan protes massa terhadap pemerintahannya, menewaskan sedikitnya 730 orang, menurut kelompok pemantau lokal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Undangan Min Aung Hlaing ke pertemuan 10 negara ASEAN telah menuai cemoohan dari para aktivis yang mendesak para pemimpin asing untuk tidak secara resmi mengakui junta.
 
Moe Zaw Oo, Wakil Menteri Luar Negeri untuk ‘pemerintah persatuan nasional (NUG)’ paralel -,dibentuk pada Jumat oleh anggota parlemen yang digulingkan sebagian besar dari partai Aung San Suu Kyi, serta politisi etnis-minoritas,- mengatakan ASEAN belum menghubungi mereka.
 
"Jika ASEAN ingin membantu menyelesaikan situasi Myanmar, mereka tidak akan mencapai apa pun tanpa berkonsultasi dan bernegosiasi dengan NUG, yang didukung oleh rakyat dan memiliki legitimasi penuh," katanya kepada layanan Voice of America Burma, seperti dikutip Channel News Asia, Senin 19 April 2021.
 
"Penting agar dewan militer ini tidak diakui. Ini perlu ditangani dengan hati-hati,” jelasnya.
 
Kerusuhan berlanjut di seluruh negeri pada Minggu, dengan pengunjuk rasa berunjuk rasa di Mandalay, Meiktila, Magway dan Myingyan, menunjukkan dukungan untuk pemerintah persatuan nasional.
 
Di Palaw di selatan negara itu, para demonstran mengacungkan spanduk yang bertuliskan: "Diktator militer seharusnya tidak diizinkan untuk memerintah. Kediktatoran akan dicabut. Dukung pemerintah persatuan nasional."
 
Demonstran muda juga menggelar aksi sepeda motor sambil membawa bendera di Hpakant dan Sagaing.
 
Malam sebelumnya, terjadi bentrokan hebat di pusat kota penghasil permata, Mogok, ketika pasukan keamanan menindak pengunjuk rasa.
 
Menurut video yang diverifikasi AFP yang direkam oleh seorang penduduk, tentara berjongkok di jalan ketika komandan mereka berteriak bahwa dia menginginkan ‘kematian’. Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) memverifikasi dua kematian di Mogok.
 
Sebagian besar Myanmar tetap berada di bawah jam malam yang diberlakukan tak lama setelah kudeta, berlangsung dari jam 8.00 malam hingga jam 4.00 pagi setiap hari.
 
Pada Sabtu larut malam, seorang pemuda ditembak dan dibunuh di Kota Kyaukme di negara bagian Shan utara saat mengendarai sepeda motornya selama jam malam.
 
"Dia ditembak oleh pihak berwenang ketika dia dan teman-temannya yang lain mengendarai sepeda motor sekitar jam 9.00 malam. Dia ditembak di kepala," kata seorang petugas penyelamat kepada AFP, seraya menambahkan bahwa pemakamannya akan dilakukan pada Minggu.

 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif