Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. (HASNOOR HUSSAIN / POOL / AFP)
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. (HASNOOR HUSSAIN / POOL / AFP)

Kaleidoskop 2022: Penantian Panjang Anwar Ibrahim Berkuasa di Malaysia

Marcheilla Ariesta • 31 Desember 2022 09:15
Jakarta: Setelah penantian panjang dan perebutan kekuasaan yang berlika-liku, Datuk Seri Anwar Ibrahim akhirnya duduk di kursi kepemimpinan Malaysia. Jalan menuju sana tidak mudah, namun di 2022, ia berhasil melangkah dan mematenkan kekuasaannya.
 
Nampaknya, 2022 menjadi 'tahunnya' Anwar, sosok yang juga dianggap penuh kontroversi dan ambisius. Tepat 24 November 2022, ia dilantik setelah melewati negosiasi sangat alot untuk membentuk kekuasaan.
 
Pembentukan itu juga tidak mudah, lewat campur tangan Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al- Mustafa Billah Shah, Anwar berhasil mengumpulkan suara mayoritas dengan menggaet UMNO dan beberapa partai lain, membentuk koalisi pemerintah gabungan.

Pemilu Dipercepat

Malaysia mengadakan pemilihan umum pada 19 November 2022. Hal tersebut resmi diumumkan oleh Komisi Pemilihan Malaysia pada Kamis, 20 Oktober 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komisi tersebut mengatakan bahwa pencalonan kandidat akan dilakukan pada 5 November, dengan menetapkan periode kampanye selama 14 hari.
 
Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob mengumumkan pembubaran Parlemen setelah menerima persetujuan dari Raja. Pemilihan umum harus diadakan dalam waktu 60 hari setelah pembubaran Parlemen.
 
Pemilu dipercepat karena kondisi politik Malaysia telah berada dalam kekacauan sejak runtuhnya pemerintahan Pakatan Harapan pada 2020, kurang dari dua tahun setelah mengalahkan Barisan Nasional pada 2018.
 
Sejak itu, Negeri Jiran telah dipimpin tiga perdana menteri dalam tiga tahun, dan dua pemerintahan terakhir hanya memiliki satu digit mayoritas di Parlemen. Lima negara bagian Malaysia telah mengalami perubahan administrasi yang disebabkan oleh pembelotan sejak 2020.

Kandidat PM Orang Lama

Tak ada nama baru yang kemudian mengajukan diri sebagai perdana menteri Malaysia kala itu. Sebut saja Anwar Ibrahim, Muhyiddin Yassin, Ahmad Zahid Hamidi dan yang paling senior, Mahathir Mohamad.
 
Semuanya adalah nama-nama yang tidak asing lagi di politik Malaysia. Pada 8 November, tepatnya 11 hari jelang pesta demokrasi Negeri Jiran dimulai, Anwar menyatakan keinginannya untuk ikut dalam perebutan 'kursi panas'.
 
Saling menjatuhkan kandidat juga terjadi dalam situasi panas saat itu. Tuduhan terhadap masing-masing kandidat terus bergulir hingga pemilu dilaksanakan pada 19 November.

Tak Ada Suara Mayoritas

Semakin memperkeruh situasi saat itu, tak ada suara mayoritas yang terpilih dari pemilu. Tiga koalisi nasional utama itu gagal mengamankan mayoritas sederhana dari 112 kursi yang diperebutkan dalam pemilu.
 
Koalisi Pakatan Harapan (PH) dan Perikatan Nasional (PN) bersaing ketat dengan masing-masing 82 dan 73 kursi parlemen, sementara Barisan Nasional (BN) hanya 30.
 
Pada Minggu, 20 November 2022, Anwar mengatakan, koalisinya memiliki cukup kursi untuk membentuk pemerintahan Malaysia berikutnya, yang akan memungkinkan dia untuk menjadi perdana menteri.
 
Namun, di sisi lain Muhyiddin yang koalisinya memiliki salah satu suara terbanyak mengklaim berhasil mengamankan mayoritas. Ia menantang Anwar dan bersiap-siap untuk membentuk pemerintahan baru serta menyerahkan kepada raja.
 
Negosiasi alot ini terus berlanjut hingga tiga hari setelah pemilu berlangsung.

Campur Tangan Raja Malaysia

Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al- Mustafa Billah Shah akhirnya harus turun tangan, mencairkan api politik yang tak kunjung padam di negaranya. Jajaran pemimpin koalisi Pakatan Harapan (PH) dan Perikatan Nasional (PN) sama-sama dipanggil ke Istana Negara Malaysia pada Selasa, 22 November.
 
Sejam menghabiskan waktu di Istana Negara, Anwar dan Muhyiddin keluar tanpa menghasilkan keputusan apapun. Beberapa jam kemudian, Muhyiddin membeberkan dirinya menolak permintaan Raja untuk membentuk pemerintahan bersama dengan Anwar Ibrahim.
 
Setelah ditolak Muhyiddin dan tak ada keputusan, Raja kemudian memanggil seluruh 30 anggota parlemen Barisan Nasional ke Istana Negara keesokan harinya. Kemudian, pada 24 November, jajaran penguasa Malaysia dari seantero negeri diminta menghadap Raja di Istana Negara.
 
Para penguasa Malaysia nantinya akan menerima pengarahan mengenai prosedur hukum terkait parlemen Malaysia yang saat ini statusnya menggantung. Kondisi semacam ini terjadi karena pemilu Malaysia berakhir tanpa adanya koalisi yang meraih mayoritas.

Anwar Ibrahim Dilantik Jadi PM Malaysia

Setelah Raja bertemu dengan jajaran penguasa Malaysia, siang harinya diputuskan bahwa Anwar Ibrahim akan dilantik sebagai perdana menteri Malaysia.
 
"Saya Anwar Bin Ibrahim, setelah dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia, bahwa saya akan jujur menjalankan tugas itu dengan segala daya upaya. Bahwa saya akan bertindak sesuai hukum kepada Malaysia dan akan memelihara, melindungi dan mempertahankan lembaganya," ujar Anwar Ibrahim dalam sumpahnya pada 24 November sore waktu setempat.
 
Presiden RI Joko Widodo menjadi kepala negara pertama yang memberikan ucapan selamat pada Anwar usai dilantik sebagai perdana menteri Malaysia.
 
Anwar berjanji akan berjanji akan memikul posisi yang diberikan dengan penuh tanggung jawab. Ia bahkan mengatakan tidak akan mengambil gajinya sebagai perdana menteri.
 
Namun, rupanya tak hanya sampai di situ saja drama politik Negeri Jiran terjadi. Seminggu setelah Anwar dilantik, masih belum ada pemerintahan yang terbentuk.
 
Oposisi menilai, Anwar terlalu lambat menentukan pemerintahan barunya yang membuat Malaysia semakin terpuruk kondisinya. Namun Anwar berujar, ia sangat berhati-hati untuk memilih timnya di Kabinet.

Ambisi Anwar Ibrahim

Pria 75 tahun, yang karir politiknya membentang empat dekade, optimis bahwa koalisi Pakatan Harapan (PH) akhirnya bisa menang. Selama menjadi oposisi politik Malaysia, Anwar bisa kehabisan waktu untuk mencapai ambisinya memimpin negara yang telah lama dipegang tetapi sulit dipahami.
 
"Ini adalah pemilihan terakhir Anwar. Jika dia gagal mendapatkan dukungan untuk menjadi PM, akan ada harapan bahwa dia harus mundur," ucap Bridget Welsh dari Universitas Nottingham Malaysia.
 
Namun, akhirnya Anwar merih impiannya. Ambisinya yang terus bergelora di usia senja menjadi dorongan dirinya untuk merebut kursi pemerintahan. Ia berjanji akan memerintah dengan penuh tanggung jawab dan 'memperbaiki' kerusakan di Malaysia.
 
Anwar adalah pemimpin pemuda Muslim yang berapi-api ketika ia direkrut pada 1982 ke dalam Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai politik utama yang memerintah Malaysia selama lebih dari 60 tahun.
 
Bintangnya meroket, saat ia menjadi menteri keuangan dan kemudian wakil perdana menteri pada awal 1990-an di bawah mantan perdana menteri Mahathir Mohamad, penyeimbang muda untuk veteran politik.
 
Pasangan yang dianggap sebagai salah satu pasangan paling dinamis dalam politik Asia Tenggara saat itu pun tercerai. Ketegangan memuncak selama krisis keuangan Asia 1997 hingga 1998, ketika mereka berselisih tentang bagaimana menangani bencana itu.
 
Beberapa pengamat mengatakan, Anwar terlalu tidak sabar untuk menjadi perdana menteri, meremehkan pelindungnya. Mahathir memecat Anwar, yang juga dikeluarkan dari UMNO dan didakwa melakukan korupsi dan sodomi.
 
Dia dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena korupsi pada 1999, dengan tambahan hukuman penjara sembilan tahun ditambahkan untuk tuduhan sodomi pada tahun berikutnya, dua hukuman berjalan berturut-turut.
 
Ketika Anwar mengklaim penganiayaan politik, protes jalanan meletus dan berkembang menjadi gerakan yang menyerukan reformasi demokrasi. Foto-foto Anwar dengan mata hitam, dijebloskan ke penjara oleh kepala polisi Malaysia saat itu, diterbitkan di surat kabar di seluruh dunia, mengubahnya menjadi simbol perjuangan yang mengadopsi seruan reformasi di Negeri Jiran tersebut.
 
Meski banyak kontroversi sepanjang karirnya, Anwar berhasil membuktikan dirinya sangat siap memimpin Malaysia, membawa Negeri Jiran berjaya. Ia juga sadar, masih panjang jalan ke depannya untuk memimpin negara itu.
 
Dan memulai 2023, Anwar akan memulai lawatan pertamanya ke luar negeri sebagai perdana menteri. Indonesia menjadi pilihan pertamanya, untuk mempererat persaudaraan kedua negara.
 
Baca:  Mahathir Ragu Anwar Ibrahim Miliki Kemampuan untuk Memimpin Malaysia
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif