Jakarta: Setiap pertengahan April, Thailand berubah menjadi arena kegembiraan melalui Festival Songkran. Meskipun dunia mengenalnya sebagai festival perang air terbesar di dunia, bagi masyarakat Thailand, Songkran adalah momen sakral yang sarat akan makna budaya, agama, dan nilai-nilai sosial.
Sebagai perayaan Tahun Baru Tradisional Thailand, Songkran merupakan manifestasi dari rasa syukur, penghormatan, dan harapan baru.
Filosofi Air: Penyucian dan Pembaharuan
Sejarah Festival Songkran bermula dari abad ke-13 pada masa Kerajaan Sukhothai, yang awalnya dirayakan penduduk dengan membersihkan hunian, mandi di sungai, serta beramah tamah.
Formalitas ibadah ini semakin tertata pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Raja Ramathibodi I, melalui tradisi sedekah kepada Biksu dan ritual memandikan patung Buddha. Penyesuaian besar terjadi pada abad ke-19 saat Raja Rama V mengalihkan perayaan ke bulan April demi menyelaraskannya dengan kalender Surya.
Seiring berjalannya waktu, tradisi penyucian diri yang sakral ini bertransformasi menjadi perayaan massal yang meriah, di mana perang air di jalanan menjadi simbol populer untuk membuang kesialan dan menjemput keberuntungan di tahun yang baru.
Inti dari Festival Songkran adalah air. Namun, air di sini bukanlah sekadar sarana bermain.
Saling menyiram air dipercaya sebagai simbol untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan selama setahun ke belakang.
Filosofi ini melambangkan pembaharuan, yaitu sebuah cara untuk memulai tahun baru dengan hati yang suci dan semangat yang segar. Selain menyiram satu sama lain, warga juga melakukan ritual pembersihan patung-patung Buddha menggunakan air wangi sebagai bentuk penghormatan spiritual.
Nilai Bakti dan Tradisi Rod Nam Dam Hua
Songkran juga menjadi momen penting untuk memperkuat ikatan keluarga. Salah satu tradisi utama yang dilakukan pada hari pertama adalah ritual Rod Nam Dam Hua.
Dalam ritual ini, anggota keluarga yang lebih muda akan menuangkan air wangi ke telapak tangan orang tua atau anggota keluarga yang dituakan. Tradisi ini bukan hanya tanda penghormatan, melainkan juga bentuk permohonan maaf atas kesalahan di masa lalu sekaligus cara untuk memohon berkah bagi masa depan.
Momen Refleksi dan Kedermawanan
Selama festival berlangsung dari 13 hingga 15 April, masyarakat Thailand berbondong-bondong mengunjungi kuil untuk berdoa dan bermeditasi, memberikan persembahan kepada para biksu, dan melakukan tindakan kedermawanan sebagai bentuk refleksi diri.
Hal ini menunjukkan bahwa Songkran adalah waktu untuk berkomitmen pada kebaikan dan meningkatkan kualitas hidup secara spiritual sebelum terjun ke dalam keriuhan pesta air bersama komunitas.
Pelestarian Warisan Budaya
Di tengah modernisasi, Songkran tetap menjadi benteng pelestarian identitas Thailand. Melalui permainan rakyat, parade budaya, dan hidangan khas yang disajikan, festival ini memperkuat rasa kebersamaan antarwarga sekaligus memberikan penghormatan kepada sejarah dan adat istiadat lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di