Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. (Medcom.id)
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. (Medcom.id)

Hikmahanto: Besar Probabilitas Jokowi Hadirkan Gencatan Senjata di Ukraina

Willy Haryono • 25 Juni 2022 09:01
Jakarta: Presiden Joko Widodo direncanakan berkunjung ke Ukraina dan Rusia sebagai upaya menghadirkan gencatan senjata serta mengakhiri tragedi kemanusiaan sebagai akibat dari konflik bersenjata antar kedua negara tersebut.
 
Menurut pandangan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, probabilitas Jokowi menghadirkan gencatan senjata dan mengakhiri tragedi kemanusiaan sangat besar. Ada lima alasan untuk ini.
 
"Pertama, baik Rusia maupun Ukraina sama-sama telah lelah berperang," ucap Hikmahanto, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Sabtu, 25 Juni 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rusia awalnya menargetkan operasi militer khusus di Ukraina dapat berlangsung cepat, namun hingga sekarang belum juga berakhir. Demikian juga Ukraina yang telah banyak menderita akibat serangan ini.
 
Kedua, lanjut Hikmahanto, legitimasi dari kedua pemimpin di masyarakat masing-masing semakin tergerus. Legitimasi yang kuat bagi kedua pemimpin dari masyarakat masing-masing di awal serangan mulai memudar mengingat perang tidak berpihak kepada rakyat.
 
"Ketiga, saat ini Rusia dan Ukraina sedang mencari jalan untuk mengakhiri perang, namun secara bermartabat. Mereka tidak ingin kehilangan muka. Bila Rusia menghentikan serangan secara sepihak, ini akan berakibat pada hilangnya muka Presiden (Vladimir) Putin," tutur Hikmahanto.
 
"Demikian pula bila Presiden (Volodymyr) Zelensky menyerah, maka ia akan kehilangan muka di mata masyarakatnya," lanjut Rektor Universitas Jenderal A Yani itu.
 
Untuk poin keempat, Hikmahanto mengatakan bahwa hingga saat ini tidak ada negara yang berinisiatif mengupayakan gencatan senjata. Turki dan Israel pernah mengupayakan, namun gagal karena saat itu kedua negara masih bersemangat untuk berkonflik dengan menggunakan senjata.
 
Terakhir, gencatan senjata, bila memang terjadi, dinilai harus dimulai dari Rusia. Apakah Rusia berkeinginan untuk menghentikan serangan?
 
"Ada indikasi bahwa Rusia hendak menghentikan ini," sebut Hikmahanto.
 
Ini karena Rusia bersedia menerima kunjungan Presiden Jokowi, meski Rusia tahu Indonesia adalah ko-sponsor dari sebuah Resolusi Majelis Umum PBB yang disponsori Amerika Serikat yang mengutuk serangan Rusia sebagai suatu agresi," sambungnya.
 
"Bila Rusia tidak memiliki keinginan untuk menghentikan perang, tentu Rusia akan menolak kehadiran Presiden Jokowi yang menganggap Indonesia telah berpihak pada AS dan sekutunya," pungkas Hikmahanto.
 
Baca:  Hal yang Harus Dicermati Jokowi Jika Jadi Juru Damai Rusia dan Ukraina
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif