Nelayan Filipina berharap mereka mendapatkan akses berlayar di Laut China Selatan usai pertemuan Presiden Ferdinand Marcos Jr dan Xi Jinping./AFP
Nelayan Filipina berharap mereka mendapatkan akses berlayar di Laut China Selatan usai pertemuan Presiden Ferdinand Marcos Jr dan Xi Jinping./AFP

Nelayan Filipina Harap Kunjungan Marcos ke Beijing Berbuah Akses Penuh di LCS

Marcheilla Ariesta • 04 Januari 2023 18:59
Manila: Nelayan Filipina menjadi yang paling terkena dampak dari sengketa teritorial di Laut China Selatan dengan Tiongkok. Mereka berharap mendapatkan akses penuh ke perairan kaya sumber daya itu saat Presiden Ferdinand Marcos Jr memulai kunjungannya ke Beijing.
 
Nelayan mengatakan, perairan mereka dijaga oleh Penjaga Pantai Tiongkok.
 
"Saya hanya berharap kita dapat menangkap ikan dengan bebas di Scarborough tanpa ada yang mengusir," kata Marvin Mayo, seorang nelayan Filipina.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya harap tidak ada yang mengusir kami setiap kami mencari perlindungan di Scarborough saat cuaca buruk," sambungnya, dilansir dari AFP, Rabu, 4 Januari 2023.
 
Baca juga: Kunjungi Tiongkok, Marcos Ingin Bahas Keamanan di Laut China Selatan
 
Sebagai informasi, bebatuan seluas 150 kilometer persegi yang berfungsi sebagai penghalang ombak kuat itu diklaim oleh Filipina dan Tiongkok. Dan kapal penjaga pantai Tiongkok dikabarkan kerap mengusir nelayan yang mendekati wilayah perairan tersebut.
 
Sementara itu, dalam kunjungan kenegaraan pertamanya di luar Asia Tenggara, Marcos menuju Beijing dengan tujuan meningkatkan perdagangan dan hubungan bilateral. Dia akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan pejabat tinggi lain.
 
Kabarnya, ia akan mengangkat masalah keamanan, Laut China Selatan dan kerja sama energi dalam pertemuannya dengan Xi. Di antara sejumlah perjanjian yang diharapkan Filipina untuk ditandatangani dengan Beijing adalah salah satu yang bertujuan untuk mencegah miskomunikasi atas perairan yang disengketakan di Laut China Selatan.
 
Kedua belah pihak telah berulang kali berselisih tentang aktivitas Tiongkok di Laut China Selatan, termasuk klaim kedaulatan Beijing atas sebagian besar pulau dan perairan di kawasan itu.
 
Scarborough Shoal, sebuah segitiga terumbu dan bebatuan, adalah tempat ketegangan antara Filipina dan Tiongkok pada 2012. Kebuntuan menyebabkan Filipina mengajukan gugatan ke pengadilan arbitrase.
 
Pengadilan memutuskan pada 2016, bahwa klaim sembilan garis putus-putus Tiongkok tidak valid.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif