medcom.id, Pennsylvania: Calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Donald Trump menyebutkan bahwa Barack Obama dan AS saat ini dibenci dunia.
"Dunia membenci presiden negara ini (Barack Obama)," tutur Trump di hadapan pendukungnya di Pennsylvania, seperti dikutip AFP, Sabtu (22/10/2016).
"Dunia pun membenci kita (Amerika Serikat). Anda lihat apa yang terjadi dengan Filipina, setelah bertahun-tahun (menjadi sekutu terdekat), kini mereka justru mendekat ke Rusia dan Tiongkok. Karena mereka tidak nyaman dengan Amerika yang lemah," tegasnya.
Ucapan Trump dipicu pernyataan dari Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang ingin memutuskan hubungan dengan AS. Namun Duterte pada akhirnya mengkoreksi ucapannya sendiri.
(Baca: Presiden Filipina Umumkan Pisah dari Amerika Serikat).
(Baca: Presiden Filipina Umumkan Pisah dari Amerika Serikat).
Sementara kritikan dari Trump kepada Obama pada Jumat 21 Oktober, datang setelah komentarnya mengkritik Ibu Negara Michelle Obama yang melakukan kampanye untuk Capres AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: AFP)
Duterte jelaskan maksud ucapan putus hubungan
Presiden Rodrigo Duterte menyebutkan maksud dari ucapan putus hubungan dengan AS, lebih dari pembatasan hubungan luar negeri yang tidak harus selalu mengikuti Amerika.
"Yang ingin saya katakan adalah pemisahan kebijakan luar negeri, di mana sejak dahulu hingga saat ini, kita terus mengikuti saran dari AS," jelas Duterte.
Sementara Menteri Luar Negeri Perfecto Yasay menyebutkan bahwa Duterte ingin menyeimbangan kebijakan luar negeri serta memperluas aliansi negaranya, bukan hanya dengan AS saja.
"Filipina ini menjauh dari citra adik kecil AS yang berkulit coklat, yang selama ini mempersulit kemampuan untuk berdiri sendiri. Kami ingin mengatasi masalah domestik dan luar negeri dengan kemampuan pribadi tanpa ada campur tangan pihak asing," pungkas Yasay.
Selama di Tiongkok, Presiden Duterte menegaskan dirinya tidak menyerah tehadap apapun keinginan Negeri Tirai Bambu. Terutama sekali mengenai konflik Laut China Selatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News