Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel menolak bernegosiasi dengan AS. (dok instagram)
Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel menolak bernegosiasi dengan AS. (dok instagram)

Soal Ultimatum Trump, Begini Respons Presiden Kuba

Adri Prima • 12 Januari 2026 20:02
Jakarta: Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, memberikan respons tegas terkait ultimatum Donald Trump yang mengancam untuk memutus pasokan minyak Venezuela jika Kuba tidak melakukan kesepakatan dengan Amerika Serikat.
 
Miguel Diaz-Canel menyatakan pihaknya tidak akan tunduk dengan negara manapun tak terkecuali AS. "Tidak ada yang bisa mendikte apa yang kami lakukan," tegas pemimpin Kuba tersebut melalui unggahannya di media sosial X.
 
Pernyataan ini muncul tak lama setelah Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Kuba. Trump memberikan "saran kuat" agar Kuba segera membuat kesepakatan dengan AS, sembari memberikan ancaman bahwa Kuba tidak akan lagi menerima aliran dana maupun minyak dari industri energi Venezuela.
 
Baca juga:
Trump Ancam Putus Pasokan Minyak Venezuela ke Kuba
 

Kuba Tegaskan Kedaulatan


Diaz-Canel menilai Amerika Serikat telah lama melakukan tindakan agresif terhadap negaranya. Ia menyebut pihak yang memandang segalanya sebagai urusan bisnis, termasuk nyawa manusia, tidak memiliki legitimasi moral untuk menghakimi Kuba.

"Kuba tidak melakukan agresi; ia telah diagresi oleh Amerika Serikat selama 66 tahun, dan ia tidak mengancam; ia bersiap, siap membela Tanah Air hingga tetes darah terakhir," tulis Diaz-Canel.
 
Sikap serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla. Ia menegaskan negaranya memiliki “hak mutlak” untuk mengimpor bahan bakar dari mitra ekonomi mana pun tanpa intervensi atau tekanan dari Amerika Serikat.
 
Hubungan kedua negara semakin memanas setelah Trump menuding Kuba memberikan “layanan keamanan” kepada rezim Venezuela sebagai imbalan atas pasokan minyak dan dana. Tuduhan itu dibantah keras oleh Rodriguez, yang justru mengkritik kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.
 
"AS berperilaku seperti hegemon kriminal dan tidak terkendali yang mengancam perdamaian dan keamanan, tidak hanya bagi Kuba dan belahan bumi ini, tetapi bagi seluruh dunia," ujar Rodriguez.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan