Tekanan ini muncul setelah terhentinya pasokan minyak dan aliran dana dari Venezuela ke Kuba. Situasi kian memanas usai pasukan Amerika Serikat menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada 3 Januari lalu.
Selama bertahun-tahun, Venezuela diperkirakan memasok sekitar 35 ribu barel minyak per hari ke Kuba. Namun kini, AS mulai menyita kapal tanker yang mengirim pasokan minyak.
Peringatan Trump
Melalui unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump menegaskan bahwa era ketergantungan Kuba terhadap Venezuela telah berakhir.
Ia menyebut selama ini Kuba memberikan layanan keamanan bagi kepemimpinan Venezuela sebagai imbalan atas dukungan energi.
| Baca juga: Operasi Militer AS di Venezuela, Trump Melanggar Konstitusi? |
"Kuba hidup, selama bertahun-tahun, dari sejumlah besar MINYAK dan UANG dari Venezuela. Sebagai imbalannya, Kuba menyediakan 'Layanan Keamanan' bagi dua diktator Venezuela terakhir, TAPI TIDAK LAGI!" tulis Trump.
"TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG PERGI KE KUBA - NOL! Saya sangat menyarankan agar mereka membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT," tegas Trump.
Trump juga menyinggung tewasnya 32 warga negara Kuba dalam operasi penangkapan Maduro. Ia menyatakan Venezuela kini berada di bawah perlindungan militer Amerika Serikat dan tidak lagi memerlukan “preman dan pemeras” yang selama ini menahan negara itu.
Tekanan terhadap Kuba merupakan bagian dari kebijakan luar negeri Trump yang lebih luas di kawasan Amerika Latin. Trump menyebut pendekatan barunya sebagai “Donroe Doctrine”, pembaruan dari Doktrin Monroe 1823 yang menegaskan dominasi Amerika Serikat di belahan bumi barat.
Selain Kuba dan Venezuela, Trump juga melontarkan peringatan kepada Presiden Kolombia Gustavo Petro serta mengisyaratkan langkah keras terhadap kartel narkoba di Meksiko.
Di Washington, sinyal perubahan arah kebijakan terhadap Kuba semakin menguat setelah Trump mendukung wacana yang menyebut Menteri Luar Negeri Marco Rubio berpotensi menjadi presiden Kuba di masa depan. "Kedengarannya bagus bagi saya!" tegas Trump.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News