Prajurit Brasil menumpuk bantuan kemanusiaan untuk Venezuela di wilayah perbatasan Roraima, 22 Februari 2019. (Foto: AFP/NELSON ALMEIDA)
Prajurit Brasil menumpuk bantuan kemanusiaan untuk Venezuela di wilayah perbatasan Roraima, 22 Februari 2019. (Foto: AFP/NELSON ALMEIDA)

Prajurit Venezuela Bunuh Dua Orang di Perbatasan

Internasional konflik venezuela venezuela
Willy Haryono • 23 Februari 2019 11:58
Caracas: Prajurit Venezuela menembak mati dua orang dan melukai 15 lainnya di sebuah perlintasan tidak resmi di wilayah yang berbatasan dengan Brasil. Para korban ditembak saat berusaha menghalangi para prajurit yang hendak menutup perlintasan tersebut.
 
"Seorang wanita dan suaminya dibunuh, dan 15 lainnya dari suku asli Pemon terluka," kata grup aktivis hak asasi manusia Kape Kape, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat 22 Februari 2019.
 
Bentrokan terjadi di negara bagian Bolivar, Venezuela, yang berbatasan dengan Brasil. Presiden Venezuela Nicolas Maduro memerintahkan menutup perbatasan tersebut pada Kamis kemarin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dua ambulans Venezuela terlihat melintasi perbatasan tersebut pada Jumat. Keduanya membawa lima korban luka tembak ke sebuah rumah sakit di negara bagian Roraima, Brasil.
 
Salomon Perez, warga Venezuela yang menyeberang ke Brasil bersama saudaranya yang tertembak, mengaku telah berbicara dengan seorang jenderal dan memintanya untuk membuka kembali perbatasan.
 
"Itu bukan sebuah bentrokan, tapi penyerangan," kata Perez, yang juga bagian dari Pemon.
 
"Orang-orang kami bertindak biasa dan tenang. Tapi para prajurit datang dan menembaki suku pribumi," lanjut dia.
 
Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido, yang menentang Maduro soal pengiriman bantuan kemanusiaan, menyerukan pihak militer untuk menangkap mereka yang telah membunuh dua orang di perbatasan.
 
Suku Pemon dilaporkan menahan empat prajurit Venezuela dan menyita sebuah mobil yang merupakan bagian dari konvoi militer. Selama ini, komunitas Pemon menyeberang dari Venezuela ke Brasil via rute tidak resmi untuk membeli makanan.
 
"Kami menyeberangi perbatasan dari Venezuela ke Brasil via jalan lain karena garda nasional memblokade (rute resmi)," sebut Genesis Valencia, seorang wanita Pemon berusia 26 tahun.
 
"Kami harus membeli barang-barang di Brasil karena sudah tidak ada apa-apa di Venezuela. Tidak ada makanan, obat-obatan. Anak-anak bisa mati kelaparan," lanjut dia.
 
Bantuan kemanusiaan adalah isu krusial dalam ketegangan antara Guaido dengan Maduro. Guaido, yang telah mendeklarasikan diri sebagai presiden interim, bertekad menyalurkan bantuan kemanusiaan asal Amerika Serikat bagi warga Venezuela.
 
Sementara Maduro menolaknya, dengan alasan bantuan tersebut hanya akal-akalan AS untuk menginvasi Venezuela.
 
Baca:Rusia Tuding AS Berencana Persenjatai Oposisi Venezuela
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi