Pernyataan itu disampaikan menyusul operasi militer AS yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Sabtu lalu.
Meski Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sejumlah pengamat energi menilai ambisi Trump lebih sarat risiko ketimbang keuntungan. Kerusakan infrastruktur yang masif serta ketidakpastian politik dinilai menjadi hambatan utama bagi masuknya investasi asing.
Ambisi Trump
Trump menyatakan optimistis keterlibatan korporasi AS mampu mengembalikan posisi Venezuela sebagai salah satu produsen minyak utama dunia.
"Kami akan mengerahkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut," ujar Trump.
Namun, realisasi rencana tersebut dinilai tidak sederhana. Produksi minyak Venezuela memerlukan pembangunan ulang infrastruktur yang telah terfragmentasi sejak era pemerintahan sosialis Hugo Chavez hingga Maduro.
Di sisi lain, karakter minyak mentah Venezuela yang kental membutuhkan biaya pengolahan tinggi, sementara harga minyak global saat ini belum tentu sebanding dengan nilai investasi yang dibutuhkan.
| Baca juga: Kronologi Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap Militer AS |
Ketidakpastian Politik dan Dominasi Chevron
Peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Clayton Seigle, menilai situasi politik Venezuela pascapenangkapan Maduro masih belum stabil. Pada hari yang sama, Mahkamah Agung Venezuela melantik Delcy Rodriguez, mantan pengawas perusahaan minyak negara PDVSA sebagai presiden sementara.
"Situasi ini justru menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban mengenai masa depan politik Venezuela, dan hal itu akan menjadi pertimbangan utama bagi perencana korporasi yang ingin melihat peluang di sana," kata Seigle dilansir dari CNN.
Selain faktor politik, dominasi Chevron juga menjadi tantangan besar bagi perusahaan lain yang ingin masuk ke Venezuela. Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di negara tersebut melalui pengecualian sanksi. Sekitar seperempat produksi minyak Venezuela yang dikelola Chevron diekspor ke AS.
Peneliti senior American Arms Association, Michael Klare, menyebut posisi Chevron sulit disaingi. "Perusahaan mana pun yang masuk akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menduplikasi kemampuan tersebut. Anda tidak bisa begitu saja masuk ke Venezuela dan memompa minyak," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News