Pembatalan rencana kenaikan tarif dagang ini berikan dampak signifikan bagi pasar global. Harga emas terkoreksi meski masih berada di level tinggi, indeks saham utama di AS, Asia, dan Eropa menguat, serta sentimen risiko menurun yang mendorong penyesuaian portofolio investor.
Efek positifnya, situasi ini mengembalikan instrumen kebijakan perdagangan global tetap menjadi faktor kunci dalam pergerakan harga komoditas dan pasar saham dunia.
Berikut ini dampak kebijakan tersebut terhadap berbagai instrumen pasar:
Harga Emas Terkoreksi dari Level Tertinggi
Meredanya ancaman tarif membuat harga emas dunia melemah dari rekor tertingginya. Harga emas tercatat turun ke kisaran US$4.790 per ons troi (sekitar Rp81,3 juta) dari sebelumnya US$4.887 per ons troi (sekitar Rp82,9 juta).
Koreksi ini mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap aset lindung nilai seiring menurunnya ketidakpastian global.
Meski mengalami penurunan, harga emas global masih berada jauh di atas rata-rata historis.
Sebelumnya, emas sempat menyentuh US$4.778,51 per ons troi (sekitar Rp81,0 juta) ketika pasar masih mengantisipasi eskalasi tarif dagang.
Di pasar domestik, harga emas juga pernah mencapai Rp150.560 per 10 gram di MCX (Indian market), sejalan dengan level harga tinggi global.
| Baca juga: Berpodato di Davos, Trump Bahas Greenland Sembari Menyindir Eropa |
Indeks Saham AS Menguat
Pasar saham Amerika Serikat merespons positif penundaan tarif tersebut. Dow Jones Industrial Average menguat sekitar 1,2%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 1,2% dalam satu sesi perdagangan.
Penguatan ini menandakan kembalinya minat investor pada aset berisiko setelah tekanan ketidakpastian mereda.
Bursa Eropa Mulai Bangkit
Pasar saham Eropa turut mencatatkan rebound pascakeputusan tersebut. Indeks FTSE 100, CAC 40, dan DAX menguat di kisaran lebih dari 0,1% hingga 0,5% setelah sebelumnya tertekan.
Penguatan ini membantu meredakan tekanan jual yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Mata Uang Berpotensi Menguat
Stabilitas kebijakan perdagangan turut mendorong penguatan mata uang berisiko. Euro dan sejumlah mata uang Asia kembali menguat terhadap dolar AS. Dolar AS tercatat stabil di sekitar US$1,1676 per euro.
Investor Lakukan Rebalancing Portofolio
Sebelumnya, kekhawatiran risiko mendorong investor meningkatkan alokasi ke emas. Namun, dengan membaiknya sentimen pasar, investor mulai mengurangi porsi aset lindung nilai dan meningkatkan eksposur ke saham siklikal serta sektor teknologi, sejalan dengan penguatan indeks Dow Jones dan S&P 500.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News