Joe Biden dalam kampanye di Philadelphia, AS, 18 Mei 2019. (Foto: AFP / Dominick Reuter)
Joe Biden dalam kampanye di Philadelphia, AS, 18 Mei 2019. (Foto: AFP / Dominick Reuter)

Memulai Kampanye, Biden Sebut Trump Pemimpin Perpecahan

Internasional amerika serikat donald trump
Willy Haryono • 19 Mei 2019 09:43
Philadelphia: Politikus Partai Demokrat Joe Biden menyerukan kesatuan nasional sembari menyerang Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat memulai kampanye pemilihan umum pada Sabtu 18 Mei 2019. Ia menegaskan, Trump adalah presiden yang harus dikalahkan dalam pemilu 2020.
 
Dalam sebuah acara kampanye di Philadelphia, mantan presiden itu menyerukan kepada para pemilih untuk mengakhiri kebencian dan perpecahan partisan yang telah menghiasi dunia politik AS dalam beberapa tahun terakhir.
 
"Negara ini harus bersatu," ungkap Biden di hadapan sekitar 6.000 orang, dikutip dari laman TRT World. Kampanye Biden di Philadephia disebut-sebut sebagai yang terbesar sejauh ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Presiden kita saat ini adalah pemimpin perpecahan," tambah Biden, yang menuduh Trump tak segan-segan menyerang sisi pribadi para rivalnya dan sering menggunakan 'kambing hitam' untuk meningkatkan kebencian.
 
"Jika warga Amerika menginginkan seorang presiden yang bisa meningkatkan perpecahan, memimpin dengan tangan tertutup serta hati sekeras batu, dan juga menyerang rival-rival lewat isu kebencian, maka saya bukanlah sosok yang tepat," sebut Biden dengan intonasi tinggi. "Presiden Donald Trump merupakan ahlinya di bidang tersebut," lanjut Biden.
 
Biden, 76, menjadi wakil presiden mendampingi Barack Obama saat atmosfer perpolitikan AS belum terlalu terpolarisasi seperti saat ini. Menyebutkan pengalamannya selama 36 tahun di Senat AS, Biden ingin meyakinkan Demokrat bahwa "kompromi" bukanlah sesuatu yang tabu. Ia merujuk pada perpecahan partisan yang semakin tajam antara Demokrat dan Partai Republik.
 
"Mari berhenti bertengkar dan mulai memperbaiki," kata Biden.
 
April lalu, Biden diserang isu pelecehan perempuan di saat pria yang pernah mendampingi Barack Obama itu diyakini akan mencalonkan dirinya dalam pemilihan umum 2020.
 
Terdapat dua tuduhan terhadap Biden. Tuduhan pertama dilayangkan perempuan bernama Lucy Flores, mantan pejabat negara bagian Nevada. Flores mengaku "tidak nyaman" saat Biden mencium kepalanya dari belakang.
 
Sementara tuduhan kedua datang dari Amy Lappos. Wanita asal Connecticut itu mengaku "disentuh" Biden dalam sebuah acara penggalangan dana politik pada 2009. Saat itu, Biden masih menjabat Wapres AS.
 
Empat tahun lalu, Biden juga pernah dikritik karena tertangkap kamera sedang memijat pundak Stephanie Carter, istri dari Ashton Carter. Peristiwa itu terjadi saat Ashton Carter dilantik menjadi menteri pertahanan.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif