Majelis Nasional Venezuela menyerukan adanya pemerintahan transisi untuk menggelar pemilihan umum baru. Sementara Maduro dijadwalkan dilantik untuk periode kedua pada Kamis mendatang.
"Legitimasi telah diberikan oleh rakyat melalui suara mereka. Kepada mereka yang ingin menghancurkan tekad kami, Venezuela tidak akan tinggal diam!" tulis Maduro di Twitter, seperti dikutip dari laman AFP, Minggu 6 Januari 2019.
Maduro terpilih kembali sebagai presiden dalam pilpres pada 20 Mei. Sebagian besar oposisi memboikot pemilu tersebut, karena banyak tokoh mereka menjadi tahanan rumah atau dilarang berpartisipasi.
Jumat kemarin, menteri luar negeri dari 12 negara Amerika Latin dan Kanada mengumumkan bahwa pemerintahan mereka tidak akan mengakui Maduro sebagai presiden jika dirinya tetap berkukuh melanjutkan ke periode kedua.
Para menlu menyerukan kepada Maduro untuk menyerahkan kekuasaan kepada Majelis Nasional Venezuela.
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan pada Sabtu kemarin bahwa Washington menilai Majelis Nasional Venezuela sebagai "satu-satunya institusi sah" di negara tersebut.
Satu hari berselang, Kemenlu Venezuela menuduh AS berusaha mendorong "kudeta" terhadap pemerintahan Maduro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News