NEWSTICKER
Presiden Brasil Jair Bolsonaro saat menghadiri seremoni di Istana Planalto, Brasilia, 31 Juli 2019. (Foto: AFP/EVARISTO SA)
Presiden Brasil Jair Bolsonaro saat menghadiri seremoni di Istana Planalto, Brasilia, 31 Juli 2019. (Foto: AFP/EVARISTO SA)

Bolsonaro: Kontrol Senjata Tidak Hentikan Penembakan Massal

Internasional penembakan as politik brasil
Willy Haryono • 05 Agustus 2019 08:46
Brasilia: Presiden Brasil Jair Bolsonaro menilai kebijakan mengontrol penggunaan dan pembelian senjata api tidak akan menghentikan terjadinya penembakan massal, seperti yang telah menewaskan 29 orang di Amerika Serikat sepanjang akhir pekan kemarin.
 
"Melucuti (senjata api) dari orang-orang tidak akan menghentikan itu semua," kata Bolsonaro, dikutip dari AFP, Minggu 4 Agustus 2019.
 
"Brasil, jika dilihat dari data, jumlah senjata apinya sangat sedikit. Tapi peristiwa serupa (seperti di AS) juga terjadi di sini," lanjut dia kepada awak media di Brasilia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dua penembakan massal melanda AS dalam kurun waktu 24 jam. Penembakan pertama terjadi di El Paso, Texas, dan kedua di Dayton, Ohio. Sebanyak 20 orang tewas dalam penembakan pertama, dan sisanya 9 korban jiwa sekitar 13 jam setelahnya.
 
Di Brasil, penembakan massal adalah peristiwa langka. Namun pada Maret kemarin, dua mantan pelajar di sebuah sekolah di Suzano menembak mati delapan orang dan melukai 11 lainnya. Setelah beraksi, keduanya melakukan bunuh diri.
 
Bolsonaro, seorang mantan kapten berhaluan sayap kanan, berkukuh bahwa senjata api dapat menjadi bagian dari solusi mengatasi kejahatan di Brasil. Menurut data pemerintah resmi, 65.602 pembunuhan terjadi di Brasil sepanjang 2017.
 
Seperti banyak pendukung hak kepemilikan senjata api di AS, Bolsonaro berpendapat bahwa warga dapat mencegah terjadinya penembakan massal jika mereka membawa pistol dalam kehidupan sehari-hari.
 
Pandangan tersebut juga telah diungkapkan Trump dalam beberapa kesempatan. Ia bahkan mengaku selalu membawa senjata api dalam beraktivitas. Karena kesamaan pandangan itu, Bolsonaro sempat dijuluki sebagai "Trump dari Brasil."
 
Dalam penembakan di El Paso, korban luka berjumlah 26 orang dan di Ohio 27. Pelaku penembakan pertama berhasil ditangkap, sedangkan yang kedua ditembak dalam hitungan detik oleh polisi yang sedang berpatroli.
 
Otoritas setempat mengaku sedang menyelidiki sebuah manifesto anti-imigran dalam kasus di El Paso, untuk menentukan apakah itu ditulis oleh pelaku penembakan atau bukan. Jika terbukti ditulis pelaku, maka penembakan massal ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan bermotif kebencian atau terorisme domestik.
 
Sejumlah kritik menilai Trump ikut bertanggung jawab atas dua penembakan massal terbaru, termasuk yang terjadi di El Paso. Retorika anti-imigran Trump dinilai semakin memperkuat kebencian sekelompok ekstremis terhadap imigran di AS.
 
Baca:Trump Dianggap Ikut Berperan atas Dua Penembakan Massal
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif